RADAR JOGJA – Pemasaran online dianggap sebagai salah solusi saat pandemi. Sebab mengurangi kontak langsung antara pembeli dengan pedagang. Pembeli tetap dapat memenuhi kebutuhannya, sementara pedagang memiliki pemasukan. Tapi, pemasaran secara daring (dalam jaringan) ini menimbulkan sisi dilematis.

Masyarakat Bantul belum terbiasa dengan sistem ini. Akibat sumber daya manusia (SDM) yang belum mumpuni. Selain itu, akses dan fasilitas pemasaran online terbatas. Salah satunya dirasakan oleh Pipin Kurniyati. Perempuan 50 tahun ini merupakan salah satu penggagas Pasar Barter COD UMKM Banguntapan.

Pasar Barter COD UMKM Banguntapan berbentuk semi online. Pipin mengakui, pasar tidak dapat diterapkan secara online murni. Sebab beberapa anggotanya masih gagap teknologi (gaptek). Dan meskipun sudah menerima pelatihan, kendala tetap saja ada.  Yaitu sinyal yang lemah saat cuaca buruk. “Kesulitan kami kalau hujan, sinyal lemot,” ujarnya saat ditemui di Pasar Barter COD UMKM Banguntapan, halaman Kecamatan Banguntapan, Bantul, Kamis (8/10).

Pedagang ikan hias di Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul Ismayadi justru tidak tertarik pemasaran online. Pria 37 tahun ini pernah dibuatkan blog dan prototype pemasaran digital. Berjalan seminggu, ia memilih untuk menutupnya. “Lha yang tanya sama yang beli banyak yang tanya,” ketusnya.

Selain itu, pedagang ikan hias yang sudah merintis usaha sejak 25 tahun lalu ini merasa terganggu. Banyaknya pertanyaan yang harus dijawab justru membuat tidak fokus. “Lagi ngomong (mengobrol dengan calon pembeli) terus main handphone (HP). Itu mengganggu,” ujarnya.

Namun diakui Ismayadi, jaringan internet membuat dunia lebih maju. Sebab, akses kemudahan memperoleh kebutuhan menjadi lebih mudah. Tapi dia tetap pada pendiriannya untuk tidak berjualan online. “Karena itu sesuatu yang tidak nyaman dan tidak semua dirasakan pas,” sebutnya.

Selain itu, produk dan foto yang diunggah oleh Ismayadi kerap dicomot oleh pedagang lain. Lebih parah, foto unggahannya beberapa kali digunakan untuk penipuan.  “Foto lahan saya dibajak untuk menipu. Wes lah saya nggak usah online. Begini saja saya sudah kewalahan melayani permintaan pembeli,” ucapnya.

Sementara pedagang bakso di Pasar Bantul Murjilah sudah menerapkan sistem barcode. Namun ibu dua orang putra ini tetap menerima pembayaran langsung. Dan jika dipersentase, hanya sekitar 10 persen pembeli yang menggunakan barcode. “Mayoritas cash, dulu cuma dari dinas yang pakai barcode,” ungkapnya.

Selain itu, sistem ini memiliki kelemahan. Karena barcode hanya dapat digunakan oleh pembeli yang menggunakan bank yang sama. Bila berbeda bank, maka transaksi berbasis barcode tidak dapat dilakukan. (cr2/laz)

Bantul