RADAR JOGJA – Dilema pemasaran online turut menyelimuti Kepala Dinas Perdagangan (Dinper) Bantul Sukrisna Dwi Susanta. Dia khawatir pasar tradisional akan kehilangan hakikatnya. “Takutnya kalau semua online, (pasar tradisional, Red) akan hilang kumandange,” ucapnya saat ditemui di sela acara launching gerakan memakai masker, Pasar Pundong, Srihardono, Pundong, Bantul, Senin (12/10).

Fitrah pasar tradisional, dijelaskan mantan Camat Pundong, ini sebagai tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Terjadi proses tawar-menawar di sana. Selain itu, pasar tradisional juga membentuk unsur kekeluargaan. “Itu ciri khas pasar, jangan sampai hilang kumandange,” ulangnya.

Kendati begitu, Sukrisna tetap mendorong adanya pasar digital. Sebab penularan Covid-19 dapat ditekan dengan menerapkan pemasaran online. Diklaim, dua pasar di Bumi Projotamansari sudah mencoba menerapkan pemasaran online. Contohnya, sekitar 25 pedagang di Pasar Imogiri yang bekerjasama dengan aplikasi ojek online. Namun jika dipersentase jumlahnya tidak sampai 2 persen dari total pedagang di pasar yang sudah berstandar nasional itu. Ya, jumlah pedagang di Pasar Imogiri mencapai 1.450 orang.

Pasar kedua adalah Pasar Bantul. Tapi penerapannya hanya di bagian kuliner. Di lokasi ini, pedagangnya menerapkan sistem pembayaran barcode. “Pembayarannya sudah pakai QR semua, yang pedagang kuliner di lantai dua. Pemkab mendukung demi kepraktisan,” sebutnya. Namun diakui pula, penerapan sistem pembayaran barcode belum diterima pedagang berusia sepuh. “Masih tidak telaten. Beda kan, kalau yang milenial mau beralih ke digital,” tambahnya.

Terpisah, pengunjung Pasar Bantul Iin mengaku kurang sreg berbelanja secara online. Sebab, perempuan 35 tahun ini pernah kecewa. Barang yang diterimanya tidak sesuai ekspektasi saa membeli barang melalui bantuan aplikasi. “Tidak sebanding dengan yang di gambar. Gambar bagus, tapi aslinya jelek,” keluhnya.

Selain itu saat belanja langsung ke pasar, Iin dapat menawar. Jelas itu menguntungkannya, karena barang menjadi lebih murah. “Makanya saya lebih suka datang ke pasar. Bisa melihat barangnya langsung, bisa nawar juga. Saya jarang menggunakan aplikasi belanja online,” paparnya. (cr2/laz)

Bantul