RADAR JOGJA – Kesehatan menjadi fokus perhatian pasangan Abdul Halim Muslih dan Joko Purnomo. Bagi mereka investasi pada kesehatan masyarakat akan berdampak panjang untuk pembangunan di masa depan.

”Pada 2019 stunting di Bantul ada 3.725. Jika tidak ada perhatian ke situ, bagaimana generasi masa depan di Bantul. Bisa jadi akan susah nanti cari atlet di Bantul,” ujarnya saat audiensi ke Radar Jogja, Selasa (13/10).

Menurutnya, untuk menghadapi persoalan stunting harus dimulai dari remaja. Para remaja putri di Bantul harus sehat dan cukup gizi sampai mereka dewasa. ”Kesehatan masih menjadi fokus kami, termasuk menurunkan angka DBD dan kematian bayi,” ungkapnya.

Joko Purnomo menambahkan, pemerataan di Bantul masih dirasa belum maksimal. Masih ada beberapa pedukuhan yang mendapatkan roti pembangunan dari pemerintah. Tentunya ini juga menjadi fokus mereka untuk Bantul ke depannya.

”Kesehatan, pendidikan, dan pemerataan pembangunan itu penting,” ungkapnya.

Sementara itu, Halim mengungkapkan, untuk pembangunan memang dibutuhkan modernisasi di Bantul. Hanya, butuh kajian mendalam. Misalnya saja keberadaan toko berjejaring di Bantul. Menurutnya, kelompok menengah memang menginginkan adanya toko berjejaring. Namun, warga pemilik warung rakyat keberatan akan hal tersebut. ”Sudah diatur dalam perda terkait jarak antara pasar tradisional dan toko berjejaring, namun tidak diatur untuk jarak toko jejaring dengan warung rakyat dan hal ini dianggap kurang memadahi. Intinya memang perlu modernisasi di Bantul, tapi tetap butuh kajian,” tutupnya. (ila)

Bantul