RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul bantah keluarkan surat pemberitahuan penutupan sementara sebuah tempat usaha terkait klaster Covid-19. Dalam surat tersebut, dinkes meminta usaha sablon berlamat di Palem Sewu, Panggungharjo, Sewon, tutup sejak tanggal 3 Oktober sampai 14 Oktober.

Dinkes Bantul menampik adanya tanda tangan Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharja dan cap dinas. ”Kami tidak mengeluarkan surat semacam itu,” tegas Agus dijumpai di gazebo dinasnya Kamis (8/10).

Sebab, Dinkes Bantul melakukan pemberitahuan terhadap pasien terkonfirmasi positif secara pribadi. “Karena itu data medical record,” tambahnya. Termasuk penyampaian edukasi untuk melakukan isolasi, perawatan, dan tracing.

Selain itu, surat pemberitahuan tidak memenuhi standar Dinkes Bantul. Di mana kop surat, pencantuman tanda tangan, dan NIP salah. Kop surat tidak memenuhi tata naskah. Tanda tangan atas nama Agus yang dipalsukan pun tidak mirip. Sementara NIP yang dicantumkan asal dibuat. “Le malsu ra wangun, nggak ada yang meyakinkan. Kami pastikan sekali lagi itu palsu dan isinya hoaks. Sekalipun dianggap mirip, kami tidak pernah mengeluarkan surat sejenis itu,” ulangnya.

Agus pun mengaku tidak tahu-menahu soal perusahaan sablon yang termuat dalam surat pemberitahuan. “Perusahaan itu saya nggak tahu tentangnya,” ujarnya. Oleh sebab itu, Agus tidak tahu, terkait kebenaran adanya pekerja di perusahaan tersebut yang terkonfirmasi Covid-19. Agus juga mengaku belum mencari oknum yang bertanggung jawab atas pencatutan ini. terlebih untuk melaporkannya. “Sampai hari ini, kami belum berpikir ke sana,” tambahnya.

Ditambahkan juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bantul dokter Sri Wahyu Joko Santosa memprediksi, surat pemberitahuan itu terkait dengan persaingan usaha. Selain itu, dinkes hanya berkewenangan menerbitkan surat konsultasi. Terkait upaya menjalankan usaha sesuai protokol kesehatan (prokes). “Kalau rekomendasi tetap (kewenangan, Red) di Gugus Tugas,” jelasnya. (cr2/bah)

Bantul