RADAR JOGJA – Sebanyak 20 kepala keluarga (KK) di Bantul terancam gagal transmigrasi. Pelatihan yang sedianya digelar Juli pun sudah dibatalkan. Pemberangkatan transmigran tahun ini dijadwalkan sekitar Oktober-Desember. Sesuai masing-masing lokasi penempatannya, yaitu di Paser, Kalimantan Timur; Muna Sulawesi Tenggara; Mamuju Tengah, Sulawesi Barat; Wajo, Sulawesi Selatan; dan Mahalona di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Kepala Seksi (Kasi) Penempatan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul Istiwasono menyebut program transmigrasi masih ada. Tapi, berhubung ada pandemi korona, keberangkatan transmigran sebanyak 20 KK ditunda. “Karena jika kami paksakan, pasti banyak hal yang perlu dibereskan,” ucapnya saat ditemui di kantornya Kamis (8/10).

Istiwasono menjabarkan beberapa kendala. Saat pemberangkatan, calon transmigran terdiri dari beberapa orang. Meskipun satu keluarga, bisa saja yang terpapar korona hanya satu orang. Tentu ini menyulitkan. Sebab keluarga akan enggan dipisah. Sementara transmigran menggunakan pesawat dalam perjalannya ke lokasi tujuan. Di mana terdapat kemungkinan pula, perpindahan pesawat berkali-kali. “Kalau pas di-thermo gun suhunya lebih dari 37,5 kan jadi gagal melanjutkan perjalanan,” paparnya.

Permasalah lain berada di lokasi tujuan. Transmigran harus mengkarantina diri selama 14 hari. Sementara transmigran baru saja sampai lokasi. Dan tidak mengenal siapa pun. “Betapa repotnya ketika itu harus dipaksakan. Karena dengan tidak adanya isolasi mandiri, penempatan sudah ribet,” ucapnya.

Untuk itu, diputuskan untuk mengikuti kebijakan pemerintah pusat, yaitu menunda pemberangkatan. Namun, secara resmi Istiwasono belum mendapat perintah. Dia pun mengaku belum memberitahukan hal ini pada calon transmigran. “Mereka kami bina terus untuk memelihara animo, jangan sampai mereka padam karena ini (ditunda keberangkatannya, Red),” cetusnya.

Sementara itu, istri calon transmigran Bekti Mardini Nursiam Lestari berharap dapat berangkat transmigrasi tahun ini. Bekti pun belum tahu, terkait wacana penundaan keberangkatan. “Semoga betul nyata, bisa berangkat tahun ini. Soalnya saya sudah menunggu lama,” ucap perempuan 27 tahun itu.

Disebutkan, suaminya sudah menjalani pelatihan transmigrasi. Tapi, itu dilakukan pada tahun lalu. Suami Bekti, mendaftar transmigrasi pada 2017 lalu. Mereka menunggu sampai adanya program transmigrasi dengan daerah tujuan Mahalona. “Insyallah berangkat, karena informasi terakhir yang masuk, di sana sudah dibikin,” sebut Bekti yang berencana transmigrasi bersama dua anaknya. (cr2/bah)

Bantul