RADAR JOGJA – Memasuki musim penghujan, pembudidaya ikan menyimpan kecemasan tersendiri. Sebab kepekatan air dalam kolam dapat berubah secara drastis, bila terguyur hujan. Tanpa perhatian ekstra, pembudidayaan bisa saja gagal.

Pembudidaya ikan hias Ismayadi misalnya. Pria 45 tahun ini mengaku bekerja ekstra saat musim penghujan. Sebab harus mengganti air kolam usai hujan mengguyur. “Awal musim hujan sangat riskan, terutama bagi ikan usia muda,” keluhnya saat ditemui di kolam budidaya ikannya, Kadisoro, Gilangharjo, Pandak, Bantul Rabu  (7/10).

Hujan membuat kepekatan air dalam kolam berubah. Apalagi jika kolam terguyur hujan selama 3-5 jam. Perubahan yang kontras ini dapat membuat ikan mengambang selama 2-3 hari. Lalu mati. Bila demikian, pembudidaya tentu merugi. “Hujan pertama, kedua, dan ketiga itu hancur, biasanya ikannya. Karena kan seleksi alam juga. Tapi kalau ikan yang hidup di sungai nggak masalah,” jelasnya. Namun, setelah hujan turun 6-7 kali, ikan sudah dapat beradaptasi secara mandiri.

Selain itu, permasalahan yang harus dihadapi oleh Ismayadi saat musim penghujan adalah kerapnya listrik padam. “Kalau hujan sering mati lampu. Saya pernah dulu, Ikan habis-habisan. Gara-gara hujan dan mati lampu, pompa air nggak bisa nyala. Itu mulai dari nol lagi,” sesalnya. Untuk itu, Ismayadi saat ini menyiasati hal itu dengan membeli genset. Jadi saat listrik padam, dia tidak risau ikan yang dibudidayakannya musnah. “Itu saya pembelajaran betul,” tambahnya.

Musim penghujan juga membuat resah pembudidaya udang Arif Rahman Muhlisin. Sebab saat musim penghujan membuat salinitas air asin berkurang, yang artinya, ph air pun berkurang. Maka udang yang dibudidayakan rawan terkena penyakit. Penyakit yang kerap menyerang udang saat salinitas buruk adalah mio dan berak putih.

Udang yang terkena mio, ekornya berwarna merah. Karena ekornya tidak dapat bergerak. Sehingga udang hanya dapat menggerakkan tangannya untuk bermobilisasi. Udang ini berada pada keadaan lemah, sehingga kerap menjadi mangsa udang lainnya. “Jadi missal kena mio pagi, besok yang mati di tengah bisa 2 sampai 3 kilogram. Nggak ada obatnya, jadi biasanya langsung dipanen,” jelas Arif.

Ciri dari penyakit berak putih, adanya kotoran udang yang mengambang di permukaan air yang berwarna putih. Nafsu makan udang pun menurun. Sehingga berat badannya juga berkurang. Biasanya, Arif memberi probiotik yang dicampur dengan pakan. Sebelumnya, udang tidak diberi pakan seharian. “Terus airnya dikuras sekitar 60 sentimeter, lalu diisi lagi,” sebutnya. Agar air menjadi steril. Itu diulang selama empat sampai lima hari.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kelautan dan Perikanan Diperpautkan Bantul Istriyani meyakini, pembudidaya ikan sudah paham. Kadar air akan menjadi lebih asam. Sehingga pembudidaya sudah paham pula, treatment yang cocok untuk menangani hal tersebut. Selain itu, Diperpautkan sudah ada membuat surat edaran yang disampaikan pada bidang perikanan dan pertanian. Terkait dengan datangnya musim hujan yang harus diantisipasi. (cr2/bah)

Bantul