RADAR JOGJA – Orang dengan ganguan jiwa (ODGJ) mulai tampak di jalanan Bantul. Keberadaan ODGJ dinilai meresahkan. Selain itu kerap mengganggu aktivitas warga saat berada di jalan.

Banyaknya ODGJ yang berkeliaran di jalan, menjadi perhatian pendiri Panti Hafara, Chabib Wibowo. Keberadaan mereka teak lepas dari dampak pandemi Covid-19. ”Sehingga tingkat stres masyarakat meningkat,” jelasnya Senin (5/10).

Selam pandemi pihaknya belum mendapat titipan ODGJ yang dijaring dari petugas. Di Panti Hafara ada sekitar 99 ODGJ yang dirawat. ”Belu ada titipan (ODGJ,Red) karena Sat Pol PP sendiri fokus pada penanganan Covid-19,” jelasnya.

Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular Dinas Kesehatan (Kasi PTM Dinkes) Bantul Hadi Pranoto mengklaim sudah melakukan penanganan terhadap ODGJ di Bantul. ODGJ berat akan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar. Meliputi pemeriksaan status mental, wawancara, edukasi kepatuhan minum obat, melakukan rujukan jika diperlukan. “Ada personel yang melaksanakan, baik dokter atau perawat yang terlatih jiwa di 27 puskesmas,” kata dia.

Hadi menyebut, Dinkes Bantul sudah membentuk Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM). Kendati belum tersedia di seluruh kecamatan di Bantul. Sementara di tingkat desa terdapat Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) yang aktif dan berjalan di beberapa desa saja.

Terkait penanganan ODGJ selama pandemi Covid-19, Hadi pun mengklaim petugas masih melaksanakan kewajibannya. “Yang dikurangi terutama kunjungan rumah,” ujarnya. Namun ketika Radar Jogja bertanya terkait penindakan ODGJ yang berkeliaran di jalan, tidak menjawab.

Sementara salah satunya warga yang enggan namanya dikorankan mempertanyakan banyaknya ODGJ yang berkeliaran di jalan. Dia mengaku resah karena setiap hari disambangi ODGJ. ”Pernah hampir diamuk,” ungkap sekuriti lembaga pengawas yang ada di Bantul.

Kedatangan ODGJ secara rutin, membuatnya mengerti cara memperlakukan ODGJ. “Kalau ditanggapi baik-baik, mereka juga akan baik,” jelasnya. (cr2/bah)

Bantul