RADAR JOGJA – Masih ada wisatawan yang abai protokol kesehatan (prokes). Mereka tidak mengenakan masker di lokasi objek wisata (obwis). Padahal pengelola obwis tengah berusaha untuk menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Contohnya saja wisatawan di Dewi Gumi. Beberapa di antaranya tampak tidak mengenakan masker. Kendati sedang tidak makan atau mengambil foto. “Penggunaan masker paling susah, banyak yang tidak tertib, susah sekali,” keluh Ketua Pokdarwis Guwosari sekaligus Pengelola Wisata Gunung Minjil Dewi Gumi Arif Suharson saat ditemui di lokasi binaannya Minggu (4/10).

Arif menyebut, pengendara sepeda adalah yang paling kerap kedapatan tidak mengenakan masker saat bertandang ke Dewi Gumi. Kendati para goweser itu membawanya. “Mungkin karena merasa di sini zona hijau. Jadi nyaman dan dinilai lokasinya sehat,” jelasnya. Oleh sebab itu, Arif meminta petugas dan pedagang untuk turut memperhatikan kebiasaan wisatawan.

Perlu diketahui, obwis yang juga situs bersejarah ini terletak di Guwosari, Pajangan, Bantul. Pada akhir pekan, obwis didatangi setidaknya 600 pengunjung. Bahkan, ada yang datang dari luar kota seperti dari Sulawesi, Jakarta, dan Jawa Timur. Kendati pengelola menyediakan tempat cuci tangan dan memeriksa suhu tubuh wisatawan sebelum masuk, pengelola tidak memiliki ruang isolasi. “Ruangan isolasi belum ada,” sebutnya.

Wisatawan yang ditemukan suhu tubuhnya tinggi hanya diminta istirahat sejenak di mushola. Setelah sepuluh menit, petugas akan mengecek kembali suhu tubuhnya. Bila masih tinggi, wisawatan akan diminta pulang. “Kalau turun kami perbolehkan masuk kalau tidak, tidak kami perkenankan masuk,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul Kwintarto Heru Prabowo pun mengakui ketidaksempurnaan pengelola dalam menerapkan prokes. Terutama di obwis alam terbuka. Berikut belum tersedianya sarana dan prasarana (sarpra) yang lengkap terkait prokes Covid-19.

Namun, Dinkes sudah melakukan teguran pada beberapa obwis, salah satunya Setren Opak di Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Langkah ini dilakukan dalam upaya Dinpar mengedukasi masyarakat. “Penutupan, (akan, Red) kami lakukan, kalau ada kasus klaster. Insyallah kami akan tegas,” tandasnya.

Sejauh ini, Dinpar telah memberikan bantuan terhadap 27 obwis di Bantul. Bantuant berupa penyediaan wastafel. Sementara untuk ruang isolasi, tidak disebutkan. Namun, pada tanggal 3 Agustus 2020, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul merilis posko terpadu di Pantai Parangtritis. (cr2/bah)

Bantul