RADAR JOGJA – Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor (Satreskrim Polres) Bantul membekuk seorang polisi gadungan. Tersangka Setiyo Santoso Utomo, 38, warga Oro-Oro Ombo, Kartoharjo, Madiun, Jawa Timur (Jatim). Karyawan swasta ini menggunakan atribt korps Bhayangkara untuk memudahkannya memeras korban.

Kepala Satreskrim Polres Bantul AKP Ngadi menjelaskan, penangkapan tersangka berawal dari laporan Maslachul Muhlis sebagai korban. Muhlis tiba-tiba dicegat oleh tersangka di depan SD Bungas, Sumberagung, Jetis, Bantul pada Rabu (16/9) sekitar pukul 14.30.

Tersangka menggunakan seragam berikut atribut kepolisian. Tersangka bahkan memasang plat kendaraan polisi pada sepeda motor jenis Honda miliknya. ”Atribut dan plat nomor palsu didapat di Jatim,” sebut AKP Ngadi saat ungkap kasus di Mapolres Bantul Selasa (29/9).

Penampilan Santoso yang meyakinkan, membuat Muhlis berhenti. Santoso lantas meminta Muhlis menyerahkan tas yang berisi dua gawai, uang tunai Rp 1 juta, dan surat-surat penting. Dengan dalih, Muhlis akan diborgol jika tidak mengikuti perintahnya. Sebab korban mempunyai kesalahan.

”Untuk meyakinkan, terangka membawa korban ke Mapolsek sekitar Bantul,” ujarnya. Tapi korban hanya sampai di depan Polsek. Setelah itu, korban dan pelaku kembali ke depan SD Bungas. Lalu korban diminta menunggu dengan alasan tersangka akan mengambil kunci dan berkas korban.

Setelah menunggu, tersangka tidak kunjung datang. Korban kemudian melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Polsek Jetis. ”Dengan adanya kejadian tersebut, kami menurunkan tim dari Polres Bantul untuk melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan para saksi,” paparnya.

Selain itu, petugas membuka relaman CCTV di sekitar SD Bungas. Dengan bukti itu, perugas menangkap tersangka di kediamannya di Madiun, Jatim. Petugas terus melakukan penyelidikan. Sebab tersangka mengaku baru melancarkan aksinya satu kali dan korbannya hanya satu orang. ”Saya mengimbau warga masyarakat yang merasa diperlakukan sama, melapor ke polres Bantul atau Polsek setempat untuk kami koordinasikan penanganannya,” ujarnya.

Dari pengakuan tersangka pemilihan Bantul sebagai lokasi operasi karena jauh dari rumahnya. Sehingga tidak memungkinan ulahnya terungkap. Tersangka pun mengaku baru beroperasi pertama, yaitu di Bantul. Tapi kemudian Santoso menyebut korbannya tidak ada yang perempuan. “Rata-rata itu (pria), ndak ada yang perempuan,” ungkapnya.

Akibat ulahnya, Santoso disangkakan pasal berlapis. Yaitu pasal 378 dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun. Dan pasal 368 dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. (cr2/bah)

Bantul