RADAR JOGJA – Perajin kulit di Manding, Sabdodadi, Bantul mulai beralih pada sektor pendapatan lain. Seperti menjahit masker, berdagang, bertani, dan berternak. Sebab sejak masa pandemi penghasilannya anjlok. Setidaknya sekitar 300 perajin kini tidak lagi dapat mengandalkan industri yang berkembang sejak 1980-an itu.

Kurang lebih selama empat bulan, perajin sepi pesanan. Beberapa memang masih menerima pesanan, tapi jumlahnya sedikit. Jumlahnya dirasa sangat jauh dari batas normal pendapatan. Tapi banyak pula yang tidak memiliki pendapatan sejak adanya pandemi Covid-19. “Pendapatan saya nol, nggak jalan,” keluh Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Manding saat ditemui di kediamannya Rabu (24/9).

Oleh sebab itu, warga lantas beralih mata pencaharian. Dengan memanfaatkan momen tren booming tanaman hias. Beberapa warga mulai bercocok tanam. Sebagian membuat kolam ikan di halaman rumahnya. “Warga dituntut jadi kreatif, jadi ada yang pelihara lele,” sebutnya.

Selain itu, ada pula warga yang menjadi pedagang makanan. Beberapa warga lain juga diberdayakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul untuk membuat masker melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DPUKMP). “Kami memberdayakan 200 UKM, ada yang tidak asli penjahit, juga pembuat kerajinan kulit di Manding. Jumlahnya ada sepuluh orang, karena selama pandemi produktivitasnya menurun,” ungkap Kepala DPUKMP Agus Sulistiyana.

Selain memberdayakan UKM untuk menjahit, DPUKMP juga memberdayakan 50 UKM batik. Alasannya sama, karena sektor ini pun mandek sejak adanya pandemi Covid-19. Jadi masker yang dibuat oleh UKM adalah masker dengan bahan baku batik. “Harapan kami, pemilik UKM batik yang karyanya kami beli akan memberdayakan pengrajinnya. Sehingga terjadi pergerakan ekonomi. Atau menghidupkan kegiatan padat karya bagi masyarakat yang selama ini menganggur,” ucapnya.

DPUKMP membuat 100 ribu masker dalam program padat karya ini. Anggarannya berasal dari belanja tidak terduga (BTT) sejumlah Rp 600 juta. Sebelumnya, DPUKMP telah menyerahkan 50 ribu masker pada Pemkab Bantul, Rabu lalu. Ditargetkan, pembuatan masker rampung hari ini.

Diungkap pula, DPUKMP telah mengusulkan sekitar 50 ribu UKM di Bantul untuk menerima bantuan langsung tunai (BLT). Menurut informasi yang diperoleh, Agus menyebut kuota sebanyak 12 juta UKM se-Indonesia hampir penuh. Namun, bila pemerintah pusat berniat menaikkan kuota penerima BLT, DPUKMP akan membuka kesempatan bagi UKM yang belum terdaftar. Dengan syarat, UKM tidak memiliki pinjaman bank dan saldo tabungannya tidak lebih dari Rp 2 juta. “Kami berikan yang memenuhi syarat UKM ultra mikro,” sebutnya. (cr2/bah)

Bantul