RADAR JOGJA – Tampungan mata air di Dusun Kalidadap II, Selopamioro, Imogiri, Bantul, penuh. Puluhan selang warna-warni sudah berjejal siap dialiri. Melihat itu, beberapa di antara pemilik selang mulai berdatangan. Mereka menghisap selang miliknya. Berusaha agar air segera mengalir sampai ke rumahnya.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Kalidadap II merupakan salah satu dusun yang berada di dataran tinggi. Hal ini membuat kawasan ini kerap dilanda kekeringan. Mata air yang tidak pernah kering pun menjadi andalan. Tapi, mesin pompa air rusak. Tidak diperbaiki meski sudah dua tahun mati. Akibatnya, warga berusaha mandiri agar air dapat mengalir sampai ke rumahnya.

Salah seorang warga yang tampak menenggelamkan selangnya lebih dalam adalah Kartini. Perempuan berusia 32 tahun itu berjongkok. Kemudian mengambil nafas panjang. Lalu, dia menghisap selang yang ada digenggamnya. Sebentar kemudian, tampak Kartini melepas hisapannya. Aliran air jernih mengalir dari selang yang tadi dia hisap. “Ini sudah jadi kebiasaan masyarakat sini,” sebut Kartini seraya menancapkan selang yang baru dihisapnya pada selang sambungan (21/9).

Usai menancapkan sambungan selang, Kartini lantas berjalan menelusuri aliran. Ibu satu anak ini memastikan aliran air lancar sampai ke rumahnya. Bila ada aliran yang mati, dia kembali menghisap selang. Begitu terus sepanjang 150 meter. “Saya masih mending, ada yang sampai 250 meter,” ungkapnya.

Kebiasaan ini dilakukan oleh warga bisa sampai tujuh kali sehari. Sebab, air hanya dapat mengalir jika tampungan penuh. Jadi bila tempungan mata air kosong, mata air harus dibendung. Untuk memberikan waktu bak tampungan dengan dimensi sekitar 1x1x2 meter itu terisi kembali. “Mata air di dusun ini ya cuma satu ini,” tunjuk ibu satu putra itu pada bak tampungan mata air.

Kendati mayoritas warga menghisap selang untuk dapat mengalirkan air, ada pula warga yang sudah memanfaatkan alat pompa air di rumahnya. Sebenarnya, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bantul juga pernah berencana memasang aliran di sana. Namun, warga menolak. Sebab PDAM hendak memanfaatkan mata air yang saat ini digunakan warga. “Kami nggak boleh, ndak sumber airnya malah mati,” cetus warga asli Kalidadap II ini.

Ditemui terpisah, Kepala Dusun Kalidadap II Papin mengungkap, mata air di Kalidadap adalah sumur bor, bantuan dari Pemkab Bantul. Tanpa menyebut kapan pengadaannya, Papin mengatakan, mata air di Kalidadap dimanfaatkan oleh 264 kepala keluarga (KK). Beberapa warga sebenarnya juga ada yang membuat sumur. Namun airnya tidak jernih. “Lebih bagus yang dari mata air, bening seperti air kemasan itu,” ujar pria 58 tahun.

Tidak heran sebagian besar warga memanfaatkan mata air untuk kebutuhan air minum. Namun ada pula yang memanfaatkannya untuk mandi dan cuci. Sementara untuk mengairi sawah, warga memiliki sumur bor lain. Karena mayoritas warga Kalidadap adalah petani. “Sudah dua tahun ini warga kami menghisap selang, karena mesin pompa rusak,” sesalnya. (laz)

Bantul