RADAR JOGJA – Warga Bantul mulai mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi. Bencana alam yang diakibatkan oleh fenomena meteorologi seperti angin kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi. Terlebih wilayah Bumi Projotamasari berada di hilir. Sehingga kerap mendapat kiriman air dari kabupaten- kota lain di DIJ. Selain titik banjir, pergerakan tanah juga diwaspadai.

Salah satu warga yang mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi adalah Parijan. Warga Banyusumurup, Girejo, Imogiri, Bantul itu mulai menandai atau niteni retakan tanah yang berpotensi mengalami longsor. “Ada beberapa retakan kecil yang kami waspadai, tapi kemungkinan longsor kecil,” ujarnya dihubungi Radar Jogja Selasa (22/9).

Selain itu, Parijan bersama warga kampungnya mewaspadai banjir. Agar kejadian pada Maret tahun lalu tidak terulang lagi. Oleh karenanya mereka membersihkan sungai. “Sungai sudah mulai dibersihkan. Supaya aliran sungai tidak tersumbat,” ucapnya.

Terpisah, Komandan SAR DIJ Distrik Bantul Bondan Supriyanto menuturkan hal yang sama. Relawan yang tergabung dalam timnya terus melakukan pemantauan titik-titik rawan longsor dan banjir. “Itu bagian dari rutinitas kami yang harus selalu siaga,” ujarnya.

Titik rawan longsor tersebar mulai dari Bukit Bintang, Srimulyo, Piyungan, Kedungpring, Wonolelo, dan Imogiri. Titik-titik lokasi itu paling diwaspadai. Sebab berpotensi menimbulkan korban nyawa. Akibat adanya permukiman warga di bawah titik longsor. Sementara banjir, berpotensi tinggi terjadi di Imogiri. “Sudah kami sejak jauh hari, dan kami sudah buat peta khususnya,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Pusdalops BPBD) Bantul Muhammad Fatah Hidayat mengungkap, wilayah Bantul akan memasuki musim penghujan pada Oktober akhir. Dijelaskan, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi ancaman yang kan terjadi banjir, tanah longsor, dan angin kencang. “Untuk kesiapsiagaan, kami bentuk pos pantauan di tiap desa yang bersinergi dengan relawan forum pengurangan risiko bencana (FPRB),” ujarnya ditemui di kantornya Selasa (22/9).

Selain itu, titik lokasi rawan longsor dan banjir pun telah dipasangi early warning system (EWS). Bila potensi bencana meningkat EWS akan mengirim pesan pada nomor tertentu untuk memberitahukan terjadinya bencana. (cr2/bah)

Bantul