RADAR JOGJA – Orang tua Lukman Rahma Wijaya, 16, bocah korban pengeroyokan yang tewas Jumat (7/8) lalu mendatangi Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Jogja, Kamis (27/8). Warga Padukuhan Kauman RT 02 Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul ini mengadukan kejanggalan barang bukti dengan luka-luka yang Lukman.

Sang ibu Pradita Indriyani menuturkan, di rahang kanan anaknya terdapat luka lebam akibat pukulan benda tumpul. Namun tidak ada benda tumpul di barang bukti yang dikumpulkan oleh polisi dari para tersangka dan lokasi kejadian.

“Yang ada itu gayung dan gesper untuk mengikat, benda tumpulnya mana?” tanyanya.

Meski pelaku masih di bawah umur,  Pradita berharap mereka dihukum dengan setimpal. Karena telah menyebabkan anaknya meninggal.

Kuasa hukum korban Thomas Nur Ana Edy Dharma mengatakan, pihaknya sengaja meminta dukungan KPAI untuk mengawal kasus tersebut. 

“Memang pelaku sebagian besar masih di bawah umur dan ada undang-undang peradilan anak. Tetapi korbannya itu anak-anak, jadi harus dihukum setimpal,” ujar Direktur LKBH Pandawa ini.

Sementara itu kakek Korban Agus Maryanto yang pertama kali menolong korban, menyesalkan kejadian tersebut.  Dia dayang ke lokasi kejadian setelah dihubungi ibu pelaku. Saat itu Agus menemukan Lukman sudah terkapar di ruang tengah rumah pelaku. Dia melihat para pelaku yang juga teman-teman cucunya itu duduk mengelilinginya.

“Yang saya sesalkan itu, ketika cucu saya terkapar tak bergerak kok kawannya dan pemilik rumah tidak berinisiatif membawanya ke rumah sakit. Ini ada apa?” keluhnya. 

Agus mengatakan langsung memeriksa denyut nadi cucunya, namun sudah tidak dirasakan. Kemudian dia meminta ibu pelaku untuk menghubungi ambulans. Setelah dilarikan ke IGD Rumah Sakit Nur Hidayah, Lukman dinyatakan sudah meninggal. Agus ragu, dia menganggap cucunya sudah meninggal sejak masih di lokasi kejadian. (sky/tif)

Bantul