RADAR JOGJA – Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) meresahkan pelaku pariwisata. Penyebabnya warga yang kebetulan melintas di JJLS jadi enggan masuk ke objek wisata (obwis). Selain itu, bangunan yang mereka dirikan di bahu JJLS terkesan kumuh. Berpotensi mematikan geliat pariwisata.

Perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Goa Cemara Suratijo menjelaskan, kemunculan PKL di JJLS. Pandemi Covid-19 membuat pelaku pariwisata memutuskan menghentikan kegiatan. Namun, kawasan di sekitar obwis tetap dilalui oleh warga. Untuk bersepeda santai atau jogging.

Kemudian munculah beberapa PKL. Mereka menjajakan dagangannya di sekitar JJLS. Adanya pembeli, membuat PKL menjamur. Mereka membuat gubuk dengan material seadanya. Ada juga yang hanya membuka lapak langsung dari mobilnya. Tidak jarang PKL keluar masuk area JJLS untuk menambah dagangannya yang mulai habis. “Karena ramai itu, warga kami sampai ada yang mengalami kecelakaan dan meninggal dunia,” ungkap Suratijo.
Terkait itu, warga pun melaporkannya kepada Dinas Pariwisata (Dinpar) Bantul. Mereka juga diresahkan kegiatan pariwisata di sepanjang JJLS akan terganggu.

Perwakilan Pokdarwis Pantai Baru Wandi menambahkan, PKL yang beroperasi di JJLS kebanyakan bukan warga sekitar. Seperti dari Gunung Kidul, bahkan Klaten, Jawa Tengah. Mereka mendirikan warung di bahu jalan dengan material seadanya, seperti bambu, plastik, bahkan hanya dari banner. Selain itu PKL ini berseliweran keluar masuk JJLS. Di mana mengganggu pemandangan dan lalu lintas. “Kalau kami diatur, kami juga minta diatur,” keluhnya.

Menanggapi hal itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bantul telah melakukan tindakan. Petugas melarang PKL itu berjualan. Dibantu pokdarwis sekitar JJLS petugas memasang papan larangan. “Kami berharap segera dibuat peraturan, agar kami dapat menindak dengan tegas,” ujar Kepala Seksi Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Bantul Hendro Cahya. (cr2/pra)

Bantul