RADAR JOGJA – Pengumuman pendaftaran pasangan calon (paslon) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bantul tinggal menghitung hari. Tapi gerilya media sosial (medsos) pendukung bakal pasangan calon (bapaslon) sudah memanas. Setidaknya itu yang dirasakan oleh pemilih pemula Alfinnas Briyan Sutrisno.

Pemuda 19 tahun ini aktif menggunakan beberapa medsos. Tapi menurutnya, Facebook (FB) menjadi media yang paling panas, dan paling banyak digunakan oleh kedua pendukung bapaslon. “Iya, saya mengikuti pertarungan sengit demi kursi Bantul satu,” ucapnya ditemui di kediamannya, Wirokerten, Banguntapan, Bantul Minggu (23/8).

Sengit yang dimaksud oleh Briyan, adalah kegiatan saling menyindir pasangan lain, yang dilakukan oleh kedua kubu bapaslon. “Ada jargon Noto AB dan jargon kembali etos kerja Projotamansari,” sebutnya.

Pemuda yang gemar joging ini juga memperhatikan pertengkaran antar pendukung bapaslon. Dia menyebut pemicunya yakni saling klaim dukungan dari Nahdlatul Ulama (NU). “Padahal yang membawa baju (Barisan Ansor Serbaguna NU) Banser itu adalah tim suksesnya sendiri,” gelaknya.

Hal ini disebutnya seolah-olah telah memecah Banser. ”Padahal sebenarnya tidak,” ujarnya. Briyan percaya, NU tidak akan terpecah. “Perang di medsosnya ngeri,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Divisi (Kadiv) Partisipasi Masyarakat dan SDM Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantul Musnif Istiqomah menyikapi, ketegangan yang yang ditimbulkan oleh individu pendukung bapaslon di luar kewenangannya. “Kami butuh sengkuyung semua pihak,” pintanya.

Sebab, ketegangan di medsos disebutnya berbeda dengan di dunia nyata. KPU hanya dapat melakukan upaya preventif. Tapi KPU mendorong badan ad hoc gencar menggunakan medsos, untuk memberikan kampanye sehat. “Juga sebagai antisipasi kalau ke depannya ada kampanye hitam,” sebutnya.

Kendati begitu, Musnif menyebut situasi panas hanya terjadi di medsos, dan tidak terjadi di dunia nyata. Sebab masyarakat merasa lebih bebas di medsos, dalam mengekspresikan perasaan atau pikirannya melalui kalimat yang ditulis.
Oleh sebab itu, Musnif mengimbau masyarakat untuk dewasa, cerdas, dan berpikir rasional. Juga tidak mengedepankan emosi, dalam menanggapi ketegangan dari kubu yang berbeda. “Toh, pemimpin yang terpilih, nantinya mensejahterakan Bantul,” pesannya.

Sedangkan Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bantul Harlina mengatakan, kewenangannya adalah mengawasi medsos mereka yang harus menjaga netralitasnya. Terutama aparatur sipil negara (ASN). Selain itu, badannya berwenang mengawasi medsos subjek yang berpotensi menjadi bakal calon (balon) Bupati Bantul. “Dalam hal ini, yang saat ini menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bantul,” jelasnya. (cr2/bah)

Bantul