RADAR JOGJA – Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di TPST Piyungan, Ngablak, Sitimulyo, berlangsung khidmat. Puluhan warga antusias mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Polda DIJ. Mereka adalah pemulung sekaligus warga binaan Yayasan Bumi Damai Jogjakarta.

Berbeda dari tahun sebelumnya, upacara Hari Kemerdekaan RI ke-75 ini juga diikuti lima eks Narapidana Teroris (Napiter). Mereka adalah Muhamad Inam, Saefudin, Fajar, Sumarno, dan Hasan.

Muhamad Inam merupakan keluarga Amrozi Bin Nurhasyim, seorang terpidana hukuman mati yang menjadi penggerak utama atas peristiwa Bom Bali 2002 lalu. Kemudian, Saefudin terlibat dengan konflik Morrow di Filipina, menjadi buruan dan tertangkap di Afganistan. Fajar, mantan bom buku Jakarta, peristiwa teror kepada tokoh dengan mengirimkan paket buku. Selanjutnya, Sumarno alias Abu Akas, dan Hasan Napiter yang terlibat Bom Solo 2011.

Dalam kegiatan tersebut mereka menyampaikan ikrar janji setia Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pembacaan ikrar diwakili Muhamad Iman, eks Napiter yang juga Ketua Program Pemberdayaan dan Pendampingan (pusat) Lamongan dan Wakil Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian di Jogjakarta. Yayasan tersebut membawahi 100 eks Napiter.

“Sudah saatnya kami kembali kepada Bangsa. Setia kepada NKRI, memberikan yang terbaik kepada Bangsa,” ungkap Eks Napiter Muhammad Inam, 45 di sela kegiatan, Senin (17/8).

Inam, sapaannya, mengatakan kehadirannya mengikuti upacara tersebut sebagai wujud kampanye damai dan bentuk cinta tanah air. Bentuk ketulusan hati. Dalam ikarnya, dia menyampaikan saat ini tidak pernah baiat Kepada Pimpinan ISIS. Baik Abu Bakar Al Baghdadi, Abu Ibrahim Al-Hashimi Al Quraishi maupun baiat kepada amir lainnya, yang bertolak belakang dengan NKRI.

Inam mengaku telah meninggalkan dan menjauhi bentuk faham atau tindakan yang bisa memecah belah NKRI. Setia, patuh terhadap Pancasila, UUD 1945 dan NKRI. Dan mengikuti semua peraturan yang telah ditetapkan petugas selama menjadi tahanan atau warga binaan.

“Surat pernyataan ini dibuat sebenar-benarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Sebagai tebusan dosa,” ucapnya.

Upacara dipimpin oleh Kabid Humas Polda DIJ Kombes Yulianto dan Anggota Dit Sabhara Polda DIJ Brigadir Moh Yusuf sebagai Inspektur upacara. Dalam sambutannya, Yulianto mengatakan, keterlibatan eks Napiter dan warga dalam upacara ini diharapkan mampu membentuk jiwa nasionalisme. Dengan ikrar tersebut diharapkan eks Napiter dapat membumi dan diterima di lingkungan masyarakat. “Momen ini membuat saya merinding. Luar biasa,” ujarnya. (mel/ila)

Bantul