RADAR JOGJA – Beberapa sekolah kini tidak sepenuhnya menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan sistem daring. Hal itu dilakukan, guna mengatasi keterbatasan penyelenggaraan KBM daring murni. Sementara penyelenggaraan KBM tatap muka belum diperkenankan. “Kami menggunakan semi daring, karena kalau luar jaringan (luring) dengan tugas terus, siswa bosan,” sebut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Isdarmoko.

Oleh sebab itu, Disdikpora Bantul mengambil kebijakan untuk melakukan KBM kombinasi luring dan daring. Siswa yang memang mengalami keterbatasan, dapat berkonsultasi pada gurunya. Namun dalam jumlah yang terbatas dan menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB) protokol kesehatan. Jadi hasil belajar, pengalaman, dan keterampilan siswa dapat dioptimalkan. Sekaligus menghindarkan kejenuhan siswa.

Kendati KMB semi daring diterapkan di beberapa sekolah, Isdarmoko menegaskan itu bukan berarti dapat dijadikan celah untuk menggelar KBM tatap muka. Sebab, Isdarmoko tidak mau mengambil risiko adanya penularan Covid-19 di sekolah.

SOBO KEBON: Siswa SDN 3 Panggang ketika menerima materi cocok tanam dari pemilik toko bibit Surya Tani Suryanto. ( SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Dan meski Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mengizinkan KMB tatap muka, itu hanya berlaku bagi wilayah di zona hijau dan kuning. Sedangkan Bumi Projotamansari masih tergolong zona jingga. “Jadi tidak boleh ada pembelajaran tatap muka,” tegasnya.

Salah satu sekolah yang menerapkan KBM semi daring adalah SDN 3 Panggang di Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul. Wali Kelas V SDN 3 Panggang Ardian Herda Permana mengajak siswanya bercocok tanam. Dengan bekerjasama dengan salah satu wali murid anak didiknya, Suryanto.

Sebanyak 25 siswa yang diampunya dimintanya merawat bibit tanaman. Untuk menghindari terjadinya kerumunan, siswa diminta datang bergelombang ke toko bibit. Tiap gelombangnya terdiri dari lima orang siswa.

Masing-masing siswa mendapatkan lima jenis bibit tanaman untuk dirawat. Selanjutnya siswa diminta untuk memberikan laporan kepada Ardian. “Harapannya dengan pembelajaran ini anak-anak punya motivasi untuk mengembangkan potensi bercocok tanam di Bantul,” ujarnya.

Sedangkan di SDN 1 Kretek, materi pembelajaran yang dirasa sukar membuka konsultasi. Guru Pendidikan Jasmani sekaligus Koordinator Pembelajaran Daring SDN 1 Kretek Firmasyah mengungkap, siswanya banyak yang kesulitan dalam pelajaran matematika. Maklum, orang tua siswa memiliki latar belakang yang beragam.

Namun, jumlah peserta konsultasi dibatasi. Maksimal lima siswa. Sebelumnya, siswa juga harus mengatur janji temu dengan guru yang mengampu mata pelajaran. (cr2/bah)

Bantul