RADAR JOGJA – Volume sampah medis mengalami lonjakan. Terutama di rumah sakit rujukan Covid-19. Akibatnya, terjadi pembengkakan terhadap biaya pengelolaannya.

Salah satu rumah sakit yang mengalami lonjakan volume sampah medis adalah PKU Muhammadiyah Bantul. Sebelum adanya pandemi, rumah sakit ini memproduksi sampah medis sekitar 3,5 ton per bulan. “Sekarang sampah medis kami mencapai 4 ton per bulan,” ujar Humas RS PKU Muhammadiyah Bantul Wahyu Priyono dihubungi Radar Jogja Selasa (7/7).

Artinya, salah satu rumah sakit rujukan Covid di Bantul itu mengalami lonjakan volume sampah medis sekitar sepuluh persen. Pengelola pun harus menambah pengeluaran sekitar Rp 10 juta. “Sebelum pademi, kami membayar Rp 80 juta untuk pengelolaan sampah medis. Sekarang sampai Rp 90 juta,” ujarnya.

Sedangkan untuk sampah non-medis, Wahyu menyebut adanya penurunan produksi. “Kalau sampah non-medis kami, turun sekitar 30 persen,” sebutnya.

Humas RSUD Panembahan Senopati Siti Rahayuningsih turut mengaku, rumah sakitnya mengalami lonjakan volume sampah medis. Namun, dia tidak menjelaskan jumlahnya secara rinci. Siti hanya menyebut jumlahnya tidak signifikan. “Bertambah jenisnya, tapi volume tidak signifikan. Kami sudah bekerjasama dengan pengelola dan transporter sampah medis,” ucapnya.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Bantul dokter Sri Wahyu Joko Santosa pun mengatakan terjadi penambahan volume sampah medis di puskesmas. “Ya pasti ada penambahan volume. Tapi kami tidak pernah menghitung,” cetusnya.

Untuk pengelolaan sampah medis rumah sakit dan puskesmas, petugas bekerjasama dengan PT Ara. Di mana sampah medis tersebut akan diolah di Jawa Barat. “Jadi tidak ada masalah, semua di ambil oleh rekanan. Yang mengumpulkan bukan kami,” kata dia.

Berbeda, Humas RS Nur Hidayah Kuncoro justru menyebut volume sampah medis di rumah sakitnya menurun. Tapi, penurunan tersebut diakibatkan berkurangnya jumlah pasien. Perbandingan volume sampah medis dan pasien dijelaskannya sebagai berikut. “Sekitar satu banding lima pada Januari. Sedangkan di Mei hanya satu berbanding empat,” jelasnya. (cr2/bah)

Bantul