RADAR JOGJA – Ratusan orang berkumpul di bibir Pantai Goa Cemara Minggu (5/7). Mereka bersiap melepaskan tukik atau anak penyu ke habitat aslinya.

Ketua Konservasi Penyu Goa Cemara Subagya mengungkapkan, pengelola melepaskan sekitar 120 tukik. Jenis tukik yang dilepaskan adalah anak penyu lekang atau penyu abu-abu.  “Penyu ini memang sudah masuk kriteria hampir punah. Oleh sebab itu, kami berusaha untuk melestarikannya,” ujarnya.

Subagya mengatakan, melestarikan penyu sama dengan menjaga keseimbangan ekosistem laut.  Penyu adalah pemakan ubur-ubur, sedangkan ubur-ubur pemakan bibit ikan. “Secara tidak langsung, menyelamatkan penyu itu membatasi jumlah ubur-ubur pemakan ikan,” sebutnya.

Bila jumlah ikan yang dimakan ubur-ubur berkurang, ikan yang tumbuh besar jumlahnya menjadi lebih banyak. Sehingga, tangkapan nelayan pun meningkat. “Kami punya harapan, nelayan bisa panen banyak ikan,” ucapnya.

Telur penyu diselamatkan oleh pengelola konservasi dengan melihat bekas jejak induknya di bibir pantai. Setelah itu telur dibawa ke tempat konservasi untuk ditetaskan sekitar 50 hari. Tukik yang baru menetas sampai usia tiga hari, tidak langsung dikembalikan ke habitat aslinya karena masih lemah. Selain itu, tukik masih memiliki cadangan makanan. “Kami menunggu sampai sekitar tujuh sampai sepuluh hari. Kalau terlalu lama malah kasian. Soalnya tukik jadi ketergantungan dan tidak bisa mandiri di habitas aslinya,” jelasnya.

Dalam pelepasan tukik, tampak petugas dan peserta menggunakan masker. Tiap rombongan diimbau untuk menjaga jarak. “Kami tetap berupaya untuk menerapkan protokol Covid-19,” tegas Subagya.

LESTARI: Peserta bersiap melepaskan tukik di Pantai Goa Cemara (5/7). ( SITI FATIMAH/RADAR JOGJA )

Salah satu peserta pelepasan tukik, Dimas mengaku bahagia. Ini menjadi pengalaman pertamanya menyentuh langsung dan melepaskan tukik. “Aku diajak mama melepas tukik, jadi senang,” ucap Dimas sembari menatap tukiknya yang diberi nama Sonic.

Sementara itu, seorang kakek asal Condong Catur, Sleman Ariyono menyebut tukik mirip karet. Awalnya kakek 62 tahun ini merasa geli. Namun, justru senang ketika tukik merambat di telapak tangannya. Dia datang bersama anak dan cucunya. “Ini juga pertama kalinya saya pegang tukik,” ucapnya lantas tertawa.

Turut hadir Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Dia mengapresiasi kegiatan pelepasan tukik sebagai bentuk menjaga ekosistem alam. “Terima kasih sudah mengambil peran untuk menjaga kelestarian alam,” ucapnya.(cr2/bah)

Bantul