Sekilas hanyalah rumah biasa. Berada di seberang jalan raya di sudut jembatan. Mungil dan sederhana. Rumah itu menjadi ladang ketahanan pangan pasangan suami istri Suryanto dan Siti Nurwidiyati, warga Padukuhan Palihan, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul. Berbagai macam sayuran tumbuh subur di pekarangan rumah itu.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Ada rerimbunan tanaman jepang, buah tin, tanaman zaitun, jambu, seledri, selada, daun mint, strawberry, bibit tomat, cabai, labu dan tanaman lain nyaris menutupi bagian depan rumah. Jika masuk di pekarangan belakang, hamparan bibit tanaman menghiasi bedengan tanah gembur.

Tepat di belakang dapur hendak menuju sumurnya, bergantungan labu madu. “Ini hasil eksperimen saya. Menanam aneka sayur dan buah,” ungkap Suryanto sembari menunjukkan buah labu yang belum masak di pekarangan rumahnya Kamis (24/6).

Di halaman seluas 600 meter persegi itulah dia bereksplorasi menanam sayuran. Mulai pembibitan hingga tanaman yang sudah siap petik. Eksplorasi terbarunya ya labu madu itu. “Sangat berpotensi. Sekelas swalayan,” katanya, di sela langkahnya menuju lokasi tanaman lain.

Labu madu berbentuk unik, menyebut mirip barbel untuk olahraga. Cembung di kedua sisinya. Berkulit tebal, kalau masak  berwarna coklat caramel. Nilai jualnya tinggi, sekitar Rp 20 ribu per buah di pasaran. Kalau dijual di swalayan bisa mencapai Rp 30 ribu per buah.

“Ini panenan kelima,” sebutnya. Selain labu madu, labu jenis lainnya juga pernah dia tanam. Yakni labu parang, labu botol dan labu kabuca. Ya, dia bereksplorasi sejak 2014 lalu.

Berbeda dari labu biasanya, labu ini memiliki tekstur yang padat. Khasiatnya besar. Mencegah diabetes dan kepikunan. Kaya omega tinggi, membantu kecerdasan anak. Daunnya juga dapat diolah menjadi aneka masakan.

Mengoptimalkan lahan pekarangan sangat membantu menunjang kebutuhan hidup, terutama dalam hal pangan. Dia mengajak petani lain agar pandai mengelola lahan pekarangan. Sehingga tak perlu keluar kocek untuk belanja sayuran. Terlebih di masa pandemi Covid-19 ini.

“Dapat menekan persebaran virus, menghidari kerumunan saat berbelanja,”  tambah Siti, perempuan berusia 44 tahun itu. Siti mengakui mengandalkan tanaman pekarangan untuk kebutuhan masak sehari-hari. “Hemat. Kalau masak tinggal petik saja,” ucapnya. (laz)

Bantul