RADAR JOGJA – Memasuki musim paceklik, sejumlah nelayan di Pantai Depok mulai beralih profesi. Namun, ada pula yang mengisi waktu luangnya hanya dengan berbenah peralatan alias menganggur.

Ditemui usai melaut, nelayan Pantai Depok asal Cilacap, Jawa Tengah, Agus Budianto mengaku apes. Dua jala yang ditebarnya tidak menjaring ikan sama sekali. Satu jala hanya berisikan sampah, satunya lagi justru melilit kawanan rajungan yang tidak laku dijual.

Sudah dua minggu belakangan, dia tidak mendapatkan hasil ketika melaut. Sebagai alternatif pendapatan, Agus pun menjadi pedagang cilok. “Ya begini nasibnya nelayan, kalau lagi paceklik,” ujarnya ditemui di Pantai Depok kemarin (17/6).

Berbeda, Hendri Suryono memilih menjadi petani. Cabai yang ditanamnya akan segera panen. Selanjutnya, dia berencana untuk menanam bawang merah. “Walaupun lahannya orang, tapi lumayan untuk bertahan hidup,” sebut pria 37 tahun itu.

Sedangkan bagi Kardiman Joyonegoro, menjadi nelayan adalah satu-satunya profesi. Selama paceklik, dia tetap mencoba peruntungan. Namun, tidak mendapatkan hasil sama sekali. Padahal, ongkos yang harus disiapkannya setiap berlayar Rp 150 ribu. “Itu untuk beli bahan bakar, belum termasuk makan,” keluhnya.

Diakui, Kardiman tidak memiliki keahlian lain. Oleh sebab itu, dia tertarik menjadi nelayan. “Kalau ada waktu luang ya memperbaiki jala,” ucapnya.

Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Depok, Tarmanto membenarkan sepinya tangkapan ikan di Pantai Depok. Kendati banyak nelayan yang melaut, tapi tangkapan ikan kosong. “Gelombangnya tidak ada masalah, tapi ini memang lagi musim paceklik,” sebutnya.

Diprediksi, musim paceklik akan terjadi sampai akhir bulan. “Untung nggak ada angin kencang dari timur. Kalau ada angin kencang timur, ikan bisa surut sampai Agustus,” ucapnya. (cr2/bah)

Bantul