RADAR JOGJA – Selain wabah korona, pengunjung pantai harus mewaspadai ubur-ubur. Pergantian cuaca disebut sebagai penyebabnya. Anggota SAR Parangtritis Danang Asyudi mengatakan, saat ini sedang terjadi pergantian dari musim hujan ke musim panas, sehingga ubur-ubur tampak mulai ada yang menepi ke bibir pantai.

“Tapi belum ada laporan wisatawan yang kena, soalnya ini juga masih terhitung sepi pengunjungnya,” kata Danang saat ditemui di kantornya, Minggu (14/6).

Dijelaskan, ubur-ubur dapat mengeluarkan sengat ketika tersentuh. Sengatan ini dapat berdampak lebih buruk bila menempel di kulit, oleh karena itu harus segara dilepaskan. Wisatawan yang tersengat ubur-ubur dapat membalurkan balsem atau obat herbal lainnya. “Dikasih salep atau yang panas juga bisa,” sebutnya.

Dikatakan, petugas melakukan patroli di sepanjang bibir pantai. Patroli petugas juga untuk mengingatkan wisatawan agar tidak bermain air terlalu jauh dari bibir pantai. “Kami juga mengingatkan pengunjung agar menerapkan protokol kesehatan untuk menjaga jarak aman dan selalu menggunakan maskser,” ujarya.

Antisipasi kemungkinan terburuk, SAR terhubung dengan ambulans yang setiap saat dapat dihubungi. Dijelaskan, ambulans akan membawa wisatawan dalam keadaan darurat menuju puskemas terdekat yang berjarak sekitar 5 kilometer.

Sementara itu, nelayan di Pantai Depok mengaku tidak risau dengan kemunculan ubur-ubur. Kardiman Joyonegoro mengatakan, hal ini merupakan siklus tahunan, sehingga nelayan harus terbiasa dengan risiko tersebut.

Oleh karena itu mereka mengenakan pakaian panjang dan sarung tangan tiap melaut, sehingga dampak buruk sengatan ubur-ubur dapat diminimalisasi. “Jadi biar pun kena tidak terlalu parah,” kata Kardiman

Diungkapkan, nelayan biasa menggunakan isi perut jingking sebagai obat oles ketika tersengat ubur-ubur. “Binatang di laut itu obatnya juga di laut. Kalau kena sengat ubur-ubur, jingking obatnya,” ungkapnya. (cr2/laz)

Bantul