RADAR JOGJA – Pemulihan geliat usaha kecil dan menengah (UKM) masih menunggu kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Saat ini pelaku UKM sudah merasakan dampaknya. Dengan makin sepinya permintaan dan kedatangan tamu.

Terpuruknya UKM craft dibenarkan oleh Ketua Paguban Pengrajin Kulit Setyo Rukun di Manding, Bantul Purwadi. Selama pandemi korona desa wisata Manding tidak menerima kedatangan tamu. Padahal, pembeli kerajinan kulit di Mading kebanyakan adalah tamu yang berkunjung ke desa. “Tapi mau terima tamu juga takut tertular pandemi kan,” ujarnya kemarin (28/5).

Bersama paguyubannya, Purwadi belum ada pembahasan terkait pemulihan geliat UKM. Biasanya, produk buatan paguyubannya dikirim ke Bali dan Kalimantan. “Mau jual online bimbang. Pokoknya 80 persen tidak ada kegiatan,” katanya.

Sementara itu, pemilik UKM wedang uwuh sekaligus Ketua Hipmikomindo Bantul Dwi Karti Handayani juga mengaku puncak omsetnya mulai menurun. Swalayan dan toko yang biasa dia titipi tutup. “Akhir Maret sampai awal April melonjak, sekarang hanya mengandalkan pesanan,” ujarnya.

Apa solusi bagi pelaku UKM? Pelaksana Tugas Kepala Bidang UKM Dinas Koperasi Usaha Kecil menengah dan Perindustrian (DKUKMP) Bantul Besari Setyowati mengaku masih menunggu kebijakan pemerintah pusat maupun daerah. “Apakah akan menjalankan new normal atau akan memperpanjang masa gawat darurat,” tuturnya dia ditemui di kantornya kemarin (27/5).

Namun, Wati menyebut, penerapan new normal yang banyak digaungkan saat ini belum dipahaminya. “Belum ada job teknisnya,” kata dia.
Diakuinya, geliat UKM di Bantul memang mengalami penurunan, namun Wati tidak dapat memastikan jumlahnya. Disebutkan, DKUKMP Bantul menangani UKM menengah mikro, di mana pelaku UKM kerap kali enggan menghitung penurunan omset dalam rupiah.

Dijelaskan, biasanya pelaku UKM memiliki bahan mentah dan barang setengah. Ada juga yang memiliki barang jadi, tapi tidak dapat tersalurkan. “Nah, uangnya mandeg (berhenti) di situ,” paparnya.

Demikian kerap terjadi pada pelaku UKM di bidang kerajinan atau craft. Pelaku UKM craft kesulitan menjual produknya lantaran toko banyak yang tutup. Stoknya jadi menumpuk karena sulit dipasarkan dalam masa pandemi korona. “Terutama yang terkait dengan ekspor, dia terhenti,” ungkapnya.

Dikatakan, UKM yang banyak bertahan dalam masa pandemi adalah yang bergerak dibidang kuliner. Pelaku usaha pun kreatif memanfaatkan teknologi, sehingga pelanggan mudah tertarik. Beberapa pelaku UKM yang terdampak korona juga mulai beralih pada bidang kuliner. “Mereka lincah beralih usaha untuk mencari yang laku,” salutnya.

Guna menggenjot usaha batik yang turun, DKUKMP Bantul pun memanfaatkan kain batik untuk diproduksi menjadi masker. Disebutkan pula Pemerintah Daerah (Pemda) Bantul turut mendorong upaya pemulihan, dengan mewajibkan PNS, TNI, dan Polri membeli batik saat lebaran. Namun, usaha tersebut dirasa belum maksimal. “Itu hanya untuk sementara saja, ke depannya kami belum tahu,” jelasnya. (cr2/pra)

Bantul