RADAR JOGJA – Tenaga kesehatan (nakes) yang menangani Covid-19 sudah dalam kondisi yang sangat kelelahan. Tugasnya yang sangat padat membuat mereka kurang istirahat. Bahkan tetap harus bekerja di hari libur.

“Harusnya ada hari libur untuk pemulihan stamina mereka (nakes). Cuma karena padatnya tugas, dan jumlah nakes yang sangat minim mereka harus melakukan tugas terus menerus,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Agus Budi Raharja ditemui saat Penerimaan dan Pembekalan Peserta Program Intersip Dokter Indonesia (PIDI) Angkatan II Tahun 2020 di Masa Pandemi Covid-19 Selasa (18/5).

Oleh sebab itu, peserta PIDI dianggap sangat membantu Dinkes Bantul. Sebab tenaga medis dan para medis sedang sangat dibutuhkan. “Ini sangat membantu, karena kan menjadi energi baru bagi jajaran kesehatan. Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sebanyak 30 dokter peserta PIDI diperbantukan di dua rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 dan 12 puskesmas di Bantul. RS PAU Dr. S. Hardjolukito mendapat sokongan sebanyak 10 orang dan RS Panembahan Senopati 20 orang. Dikarenakan masing-masing peserta PIDI harus menjalani program di RS dan puskesmas, maka peserta dibagi masa baktinya. “Tiga bulan di RS dan tiga bulan di puskesmas,” sebut Agus.

Menurut dia, sebelum dapat melakukan praktek mandiri, dokter yang telah lulus harus melalui PIDI. Program ini biasanya dijalani oleh peserta PIDI selama satu tahun. Namun, selama masa pandemi Covid-19, peserta diberi keringanan. “Diskon 50 persen, jadi cuma menjalani program selama enam bulan,” jelasnya.

Diharapkan, RS dan puskesmas mampu bersinergi dengan peserta PIDI. Ditekankan, RS dan puskesmas dapat memberikan penjelasan, terutama tentang pencegahan penanggulangan infeksius (PPI). Agar peserta PIDI paham cara menggunakan dan melepas APD dengan baik dan benar sehingga terhindar dari risiko terpapar penyakit menular. “Kemudian yang lain, programnya puskesmas dan RS tentu berbeda-beda,” ujarnya.

Salah satu peserta PIDI Angelika Savilia Lentika Sari, 25, memilih tetap melanjutkan PIDI ditengan pandemi Covid-19 karena tidak sengaja. Awalnya dia mendaftar PIDI untuk awal februari, saat itu pandemi Covid-19 belum meluas di Indonesia. “Tapi saya nggak milih mundur, karena tujuan saya menjadi dokter untuk dapat membantu di saat dibutuhkan, terutama di saat pandemi,” ujarnya.

Peserta lainnya, Merianas, 26, mengaku sempat takut. Dia mengkhawatirkan kelengkapan APD dan adanya pasien yang tidak jujur. Namun, dia sadar jika risiko tersebut adalah bagian dari profesinya sebagai dokter. “Tapi selama menunggu proses PIDI, aku sudah ikut seminar tentang Covid-19, karena kita harus tahu bagaimana perkembangannya,” ujar lulusan kedokteran UKDW itu.

Sementara Sekretaris Daerah Bantul Helmi Jamharis berharap, program ini dapat dijaga keberlangsungannya. Dinkes Bantul diminta untuk selalu memperbaharui laporan kebutuhan nakes, sehingga Kementrian KEsehatan dapat memberikan peluang pada para dokter untuk mengikuti PIDI. “Saat ini kita sedang diuji dengan harus merawat 34 pasien positif Covid-19. Belum menunjukkan adanya tanda penurunan dan prediksi sudah melewati posisi puncak,” paparnya. (cr2/pra)

Bantul