RADAR JOGJA – Angka kehamilan di Bantul cenderung menurun selama Pandemi korona (Covid-19). Hal itu berdasarkan catatan Dinas Kesehaan Bantul. Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Bantul dr. Anugrah Wiendyasari menyebut, penurunan kasus terjadi sejak Januari. Dari 1.384 kasus di Januari hingga 92 kasus selama April.

“Penurunan berturut-turut. Februari 1.270 kasus dan Maret 1.158 kasus,” ungkap Anugrah di kantornya, Kamis (14/5). Dia mengatakan, minimnya angka kehamilan tak lepas dari dampak korona. Sehingga pemantauan secara mobiling sementara dihentikan. Imbasnya, minim pelaporan kehamilan diri di fasilitas layanan kesehatan setempat ataupun bidan desa. “Jumlah ini berdasarkan entri data di Puskesmas,” bebernya.

Dia tak menampik, kemungkinan adanya ledakan kehamilan selama kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home). Kendati demikian, pada Mei ini cenderung stabil. Karena dimungkinkan belum dilakukannya entri data secara keseluruhan. Minimnya data, dikatakan, tak sedikit ibu hamil merasa waswas untuk memeriksakan diri. Sehingga ibu hamil dianjurkan untuk membuka buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) sebagai bekal pemahaman. Mengantisipasi dampak buruk selama kehamilan.

“Paling tidak ibu paham dengan kondisi kehamilannya. Sehingga dapat cepat tanggap,” katanya. Kesadaran melaporkan diri juga sangat berpengaruh terhadap pemantauan ibu sehingga apabila terjadi sesuatu mendapatkan pertolingan lebih cepat.

Kabid Kesehaan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehaan (Dinkes) Bantul Fauzan menyebut, selama pandemi ini terjadi lima kasus angka kematian ibu (AKI). Jumlah ini meningkat dibandingkan bulan sebelum pandemi. Yakni, sebanyak tiga kasus. “Nah, apabila dibandingkan 2019, kasusnya naik,” kata Fauzan. AKI setahun belakangan ini sebanyak 13 kasus.

Dia mengimbau, kepada masyarakat agar turut mengawasi ibu hamil di kampung masing-masing. “Sehingga, harapannya kasus dapat ditekan,” ucapnya. (mel/din)

Bantul