RADAR JOGJA – Duka mendalam dirasakan dunia tari DIJ. Khususnya Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Seiring dengan meninggalnya penggiat tari, sekaligus rektor ISI Jogjakarta kelima Prof. Dr. A.M. Hermien Kusmayati, SST., S.U.

Lobby rektorat dipenuhi pelayat Minggu  (3/5) pagi. Duka disampaikan untuk melepas kepergian mantan Rektor ISI Jogjakarta, yang berpulang dalam usia 68 tahun, pada Sabtu (2/5) pukul 11.23. “Tak setinggi itu atas debu dan duka maha tuan bertahta,” ujar Rektor ISI Jogjakarta M. Agus Burhan, mengutip puisi Chairil Anwar saat melepas kepergian jenazah untuk dimakamkan di Makam Seniman Imogiri Bantul.

Menurut dia, kepergian Prof. Hermien merupakan kehilangan dunia seni tari. Sebab Prof. Hermien dikenal sebagai sosok multitalenta dalam dunia seni tari. Selain itu, Prof Hermien ternyata pengkajian sastra. “Beliau banyak menggali naskah kuno. Terutama di Pura Pakualaman, untuk kemudian direkonstruksi menjadi tari baru,” ungkapnya.

Agus menambahkan, Prof. Hermien adalah sosok yang semangat, ramah, dan keibuan. Karakter itu dapat dilihat di semua aktivitasnya, terutama di dunia tari. Di samping itu, Prof Hermien juga memiliki semangat ketekunan yang tinggi. “Sehingga beliau dikenal sebagai seniman tari yang handal, baik pencipta tari maupun penyaji tari,” ujarnya.

Prof Hermien juga aktif melakukan penelitian dan pengkajian. Hal ini disebut Agus harus diteladani, karena pencapaiannya tidak mudah. “Sehingga kami sebagai generasi muda harus bisa meneruskan dan menjadikan semua pencapaian prof Herwin sebagai inspirasi,” ujarnya.

Dijelaskan, manusia harus bisa melihat kematian sebagai satu kenyataan. Di mana kepergiannya harus bisa dikhlaskan, dan kembali semangat menjalankan aktivitas kehidupan. “Prof. Hermien adalah rektor perempuan pertama ISI Jogjakarta, dan satu-satunya. Semoga menyusul juga generasi yang akan datang,” harapnya.

Pembantu Rektor II ISI Jogjakarta Drs. A.G. Hartono M.S. menyebutkan, Prof. Hermien lahir di Bodowoso 19 Februari 1950. Dianggat menjadi Ketua Jurusan Seni Tari ISI Jogjakarta pada 1991-1995. Pendidikan terakhirnya Doktor Sastra di Universitas Gadjah Mada lulus tahun 1999. Menjadi Pembantu Rektor I ISI Jogjakarta pada 2002-2010. “Diangkat menjadi Rektor ISI Jogjakarta pada 18 Desember 2010 sampai 18 Desember 2014,” sebutnya.

Dari pantauan Radar Jogja, pelepasan dan penghormatan terakhir dilaksanakan dengan memenuhi protokol pencegahan dan penularan pandemi Covid-19. Sebelum memasuki lobby, dilakukan pengecekan suhu, kursi ditata berjarak, dan tersedia hand sanitizer di beberapa titik. Saat penghormatan pun pelayat diminta untuk menerapkan physical distancing. (cr2/pra)

Bantul