RADAR JOGJA – Pageblug Covid-19, menyebabkan obyek wisata (obwis) di Kabupaten Bantul terpaksa ditutup. Dampaknya beberapa pekerja di sektor pariwisata banting stir. Ada yang menjadi petani.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Kwintarto Heru Prabowo mengakui, sebagian pelaku wisata di Bantul dapat bertahan dengan bercocok tanam. Awalnya jadi pengelola, kini beralih petani. Kwin mengatakan, jika belum ditemui tanda-tanda wabah ini akan berakhir, maka penutupan obwis akan diperpanjang sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan.”Kami dilematis ya, pendapatan berbagai sektor turun. Tapi kesehatan lebih penting,” ungkapnya kemarin (28/4).

Dispar memperkirakan kerugian di tengah pandemi ini mencapai Rp 5 miliar. “Itu berdasarkan kalkulasi rata-rata kerugian per Maret yang hampir mencapai Rp 2,5 miliar,” ungkapnya. Sehingga jika dihitung hingga April, dua kali lipat dari Maret. Retribusi ini hanya obwis yang di kelola Pemkab saja.

Kerugian tersebut hanya berdasar pada pendapatan restribusi per bulan minim kunjungan, Maret dan April. Sementara jumlah kerugian berdasarkan pembatalan perjalanan wisata mencapai Rp 11 miliar.

Meliputi, penginapan dua hotel di wilayah Bantul, pemandu wisata dan kegiatan wisata edukatif di sejumlah obwis. Seperti di Homestay Tembi, Desa Wisata Wukirsari, Kampung Santan Pajangan dan Hutan Pinus Mangunan maupun di Desa Wisata Jamu Kiringan. “Hotel Ros Inn dan Grand Dafam Rohan penghasilannya turun. Jiha hari biasa paling tidak tercapai 55 persen, sekarang  30 persen,” ungkapnya.

Pihaknya belum mendapatkan solusi ke depan bagi masyarakat yang terdampak di sektor wisata. Upaya yang tengah dilakukan saat ini mendistribusikan bantuan pangan dari Kementrian Pariwisata. “Kira-kira ada lima ribu pelaku wisata yang ter-back up. Distribusi baru sebagian. Yakni 1.340,” ujar mantan Camat Sewon itu.

Sebelumya, Anggota Kelompok Sadar Wisata Obwis Puncak Becici, Dlingo, Sugandi Saputra mengaku, telah beralih profesi menjadi  petani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mengelola kebun sendiri maupun menjadi buruh tani di wilayahnya.  “Ya, rumayan yang penting keluarga bisa makan,” ungkapnya. (mel/pra)

Bantul