RADAR JOGJA – Kanwil Kemenang DIJ melakukan pemantauan hilal untuk dijadikan pertimbangan menentukan awal bulan Ramadan 1441 Hijriah. Pelaksanaannya pun menerapkan protokol pencegahan pandemi Covid-19.

Undangan dibatasi maksimal 10 orang. Selain itu diterapkan physical distancing dan peserta wajib menggunakan masker selama pemantauan. Sebelum masuk ke gardu pandang, semua undangan wajib mencuci tangan dan dites suhu tubuhnya.

Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini pemantauan dilakukan di gardu pandang BPBD DIJ Pantai Parangtritis. “Arahan dari kanwil, lokasinya dipindah ke sini. Karena pada tahun ini Pos Observasi Bulan (POB) Syekh Bela Belu sedang direnovasi,” ungkap perwakilan BMKG DIJ Budiarta yang ditemui usai pemantauan hilal Kamis (23/4).

Dipilihnya gardu pandang BPBD DIJ Pantai Parangtritis sebagai lokasi pemantauan karena Parangtritis lokasinya dekat dengan ufuk permukaan laut. Meskipun uap pantai yang tinggi dapat menghalangi pemantauan, hal ini dianggap sebagai risiko terendah.

“Kalau melihat di tempat lain ada bangunan dan pohon yang menghalangi, pilihlah tempat longgar yang pas pada saat matahari terbenam. Sehingga terbenamnya matahari terpantau, baik melalui alat atau kasat mata,” jelasnya.

Namun, ahli rukyatul hilal Mutoha Arkanuddin mengatakan, hilal belum terlihat. Kegagalan rukyat akibat banyak faktor. Posisi hilal kurang tinggi walaupun sudah di atas ufuk. “Mendung penyebab utama,” katanya.

Parameter lain, lokasinya di pinggir pantai rawan uap yang mengganggu iluminasi cahaya hilalnya. Sehingga walaupun cahaya terang, kalau di pantai rata-rata meredup dan menyulitkan untuk melihat hilal. “Walaupun sudah menggunakan peralatan penjejak, teleskop,” jelasnya. (cr2/laz)

Bantul