RADAR JOGJA – Untuk mengatasi kelangkaan gula pasir di pasaran, PT Madubaru di Kasihan, Bantul mendapat jatah impor gula mentah sebanyak 10 ribu ton. Pabrik gula ini dapat memproduksi gula pasir sebanyak 300-400 ton gula pasir. Gula tersebut dijual dengan harga ecer pasar (HEP) tertinggi sesuai ketentuan Kementrian Perdagangan Rp 12.500.

Direktur PT Madubaru Irwan Revianto Rares mengatakan, mendapat penugasan impor row sugar 10.000 ton dari pemerintah yang surat persetujuan pengeluaran barang (SPPB) diperolehnya Jumat (17/4). Produksi row sugar oleh Pt Madubaru bertepatan dengan adanya pandemi virus korona. Sehingga, dapat mengisi kekosongan pabrik akibat gagal produksi ekstrak tebu. “Sebelumnya akan giling tebu awal Mei. Karena kondisi seperti ini, akhirnya mundur jadi Juni, dan sempat terjadi kelangkaan gula,” sebutnya.

Produksi gula pasir sebanyak 10.000 ton oleh PT Madubaru didistribusikan melalui penjualan ecer dan curah. Produksi dilakukan sampai stok habis dengan kemampuan produksi 300-400 ton per hari. Diperkiraan, stok 10.000 ton row sugar akan habis pertengahan Mei.

Dari pantauan Radar Jogja, antrean warga di koperasi milik PT Madubaru untuk mendapatkan gula sudah terjadi sejak pukul 07.30. Padahal pembagian nomor antrean baru dilakukan pukul 08.00.

Guna mengantisipasi pencegahan korona, warga yang sudah mendapatkan nomor antrean akan dipanggil oleh petugas. Warga diharuskan mengenakan masker dan menunggu dengan jarak  minimal satu meter per orang. “Kami memang menugaskan pendistribusian ini langsung ke masyarakat,” jelasnya.

Salah satu pembeli, Menik mengaku harus menunggu selama 1,5 jam. Warga Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ini datang pukul 08.00 dan baru bisa membeli paket gula pasir pukul 09.30. Dia rela mengantre lama untuk memenuhi stok kebutuhan gula pasirnya selama Ramadan. (cr2/bah)

Bantul