RADAR JOGJA– Ketua kelompok kegiatan (Pokgiat) Dusun Botokenceng, Wirokerten, Banguntapan, Bantul Syahroni Syahroni mengatakan belum ada kesepakatan dari seluruh takmir di dusunnya untuk meniadakan salat tarawih berjamaah. Sebab lima masjid dan mushola di dusunnya memiliki kebijakan masing-masing.

Dikatakan, sejauh ini pelaksanaan salat sesuai dengan imbauan yang telah ditetapkan. “Cuci tangan pakai sabun, menerapkan jarak aman dan membawa sajadah pribadi,” jelasnya ditemui di kediamannya Selasa(21/4).

Dikatakan, pihaknya hanya dapat melakukan pemantauan kegiatan masjid dan mushola di dusunnya melalui WhatsApp Group (WAG). “Agar kegiatan peribadatan berjalan sesuai dengan anjuran pemerintah,” ujarnya.

Namun, seluruh takmir sepakat untuk meniadakan buka puasa bersama di masjid atau mushola atau takjilan. Sebab, saat takjilan warga yang datang dalam satu lokasi berjumlah ratusan orang. “Tapi ada juga yang sedang tidak mampu untuk dijadwal memberikan takjil,” ungkapnya.

Sedangkan Ketua RT 02 sekaligus ketua takmir masjid di Kedungbuweng, Imogiri, Bantul Ismayaharyanto mengatakan masjid di tempatnya sudah tidak melaksanakan salat berjamaah. Para ibu di RT-nya telah bertanya tentang kegiatan buka puasa bersama. “Tapi karena ada edaran, ya saya tiadakan. Ndak saya malah kesalahan,” sebutnya.

Untuk pelaksanaan salat tarawih berjamaah, Yanto mengimbau warga untuk melaksanakan di rumah. Namun, dia memiliki mushola yang hanya menampung 20 orang. “Tapi nanti nggak pakai pengeras,” ujarnya.

Masjid di Kedungbuweng yang biasa digunakan warga adalah milik Keraton Jogjakarta. Keraton telah mengeluarkan larangan kegiatan yang melibatkan massa, sehingga masjid tersebut meniadakan salat berjamaah dan takjilan.

Warga Kedungbuweng juga tidak dapat mengikuti tadarus di masjid Kedungbuweng. Dijelaskan, tadarus dari abdi dalem Jogja-Surakarta ditiadakan. Para abdi dalem pun sudah sepakat untuk meniadakan tadarus bersama. “Kalau pun ada hanya perwakilan lima orang,” katanya.

Sementara itu, Komandan Kodim (Dandim) Letkol Kav Didi Carsidi mengatakan, pro dan kontra di masyarakat tentang pelaksaan salat tarawih berjamaah merupakan hal yang cukup wajar. Sebab, mereka memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Dari penilaiannya, masyarakat memiliki tingkat kesadaran yang rendah. “Tugas kami untuk memberikan edukasi,” katanya.

Diharapkan, setiap warga mengawasi lingkungannya masing-masing untuk mau melaksanakan imbauan dari pemerintah. Selanjutnya, warga dapat melaporkan ketidakdisiplinan lingkungannya kepada petugas yang berwenang. “Secara persuasif kami akan melakukan penindakan. Semoga situasi ini tidak mengurangi kekhusukan kita dalam beribadah,” ujarnya. (cr2/bah)

Bantul