Sejak Rabu (4/3), Pairin, 66, belum kembali ke rumahnya. Diperkirakan Pairin hanyut di Kali Opak. Pencarian Pairin oleh SAR Gabungan pun resmi ditutup Minggu (8/3) malam. Tapi keluarga masih mencari. Seperti apa kisahnya?

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

Rumah Pairin di Padukuhan Kembangsongo, Desa Trimulyo, Jetis, Bantul masih ramai dikunjugi kerabat dan tetangga. Radar Jogja bertemu istri Pairin, Sajiyem alias Sarjiem. Didampingi oleh menantunya, Triyana Astuti. Mereka telah mencari Pairin di tempat biasa Pairin bekerja. Tapi Pairin tidak ditemukan.

Dia mengakui terbiasa pergi ke kali selepas subuh. Pairin pun biasa mengikutinya. Hari itu pun sama, Rabu (4/3). Tapi ketika nenek berusia lebih dari 60 tahun itu pulang, sampai hari terang, sang suami tidak kunjung pulang.

Sarjiem berkisah, sebelum dinyatakan hialng, ketika itu suaminya tengah mencari kayu yang terhanyut di Kali Opak. Dari analisanya, Pairin mungkin tidak kuat menarik bongkahan. “Nek kayune abot, digeret ngulon kan terus katut (kalau kayunya berat, ketika kayu ditarik ke barat justru dapat menghanyutkan),” kata dia belum lama ini.

Memang tampak tumpukan kayu di depan rumah Pairin. Tapi kayu-kayu tersebut dikumpulkan oleh Pairin untuk memasak, di rumahnya sehari-hari. Mata pencaharian utama Pairin adalah mencari pasir di Kali Opak.

Sarjiyem sesekali menyeka air mata. Dia pun pernah mengingatkan suaminya untuk berhati-hati. Tapi dihiraukan oleh Pairin. “Nek keli piye? (kalau hanyut bagaimana?) Rapopo. Ngono kui,” ujarnya lirih lantas tertawa getir.

Sanak saudara Pairin telah melakukan persiapan guna menghadapi situasi terburuk. Mereka memohon, kakek yang juga berprofesi sebagai tukang pijat itu segera ditemukan. Mereka belum berputus asa. Pengajian, Salat Hajat. Bahkan mengundang Kyai pun mereka lakukan. “Keluarga sudah pasrah. Tinggal berdoa saja pelan-pelan, pasti ada keajaiban. Allah pasti memberi jalan terbaik,” kata anak kedua Pairin, Suratmi.

Bahkan setelah, pencarian oleh tim SAR dihentikan Minggu (8/3), tiap malam, Suratmi atau anggota keluarga lain menyambangi titik pertama Pairin dinyatakan hilang. Mereka bahkan membangun tenda di sana. “Lek-lekan, sambil berdoa ayat suci,” ucapnya menahan haru.

Suratmi percaya, bapaknya masih berada di sekitar titik pertama hilang. Tapi dia tidak ingin memaksakan diri. Telah ada penerawangan, jika Pairin terjebak dalam sebuah “pesta” di Kali Opak. “Kalau bapak dipaksakan, nanti malah semakin banyak Dayang di situ. Ada istana di situ,” ujar perempuan 30 tahun itu.

Sebelumnya, keluarga sempat berharap dengan terciumnya bau mencurigakan Sabtu (7/3) malam. Namun, setelah SAR Gabungan melakukan penyisiran, Pairin tetap tidak ditemukan. Sempat pula sanak saudara yang mencurigai sebuah benda, tapi ternyata bukanlah Pairin.

Keluarga Pairin telah membagikan berkat tujuh harian, pada Senin (9/3) malam. “Kalau mau dipanggil, juga sudah iklas,” ujar Sarjiem lantas menunduk. “Bapak tuh masih di dalem situ (Kali Opak). Nggak bisa keluar. Katanya masih terjepit batu. Tapi kalau di sana kerajaan,” imbuh Suratmi yakin. (pra)

Bantul