RADAR JOGJA – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bantul dalam dua bulan terakhir mencapai 253 kasus. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, temuan DBD cenderung merata di sejumlah wilayah.

Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Sri Wahyu Joko Santoso menjelaskan, sejak awal Januari hingga akhir Februari tercatat kasus DBD terbanyak terjadi di Kecamatan Sewon. “Ada 31 kasus,” ungkap Sri di kantornya Rabu (10/3).

Temuan tertinggi selanjutnya berada di wilayah Pandak, mencapai 26 Kasus. Sedangkan temuan di wilayah perbatasan Kasihan dan Banguntapan mengalami penurunan kasus. Temuan di wilayah Kasihan ada 17. Sedangkan di Kecamatan Banguntapan ada 14 kasus. “Tinggi rendahnya kasus berdasarkan pada pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ungkap dokter yang akrab disapa, Oki.

Dari jumlah selama dua bulan itu, temuan kasus tertinggi terjadi di minggu ke lima. Sebab, dalam satu minggu kasusnya mencapai 115. Melonjak 50 kasus dari awal Februari. Menurutnya, meningkatnya angka tersebut bersamaan dengan intensitas curah hujan pada bulan-bulan itu. Sehingga endemik nyamuk meningkat.

Penderita DBD, ada pada rentang usia antara lima hingga 15 tahun. Bila dibandingkan pada 2019, di periode yang sama, jumlahnya hampir sama. Tingkat kesembuhan pasien pun cukup tinggi. Karena faktor penanganan yang lebih cepat dari petugas kesehatan. Disusul kesadaran masyarakat mulai meningkat. ”Begitu terjadi gejala demam, mereka (masyarakat, red) langsung memeriksakan diri,” jelasnya.

Diungkapkan hingga kini, belum ada temuan DBD hingga meninggal dunia (MD). Dia pun berharap jangan sampai ada korban jiwa. Sebagaimana diketahui pada 2019 terdapat 1.378 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, empat di antaran meninggal dunia.

Berkaitan dengan tingginya kasus DBD di Wilayah Sewon. Camat Sewon Danang Erwanto telah melayangkan surat edaran (SE) ke setiap Lurah. Dalam SE tersebut, seluruh desa dan pedukuhan se Kecamatan Sewon diimbau agar menggalakan kerja bakti pembersihan lingkungan secara serentak. Dan secara rutin dilakukan PSN melibatkan jajaran forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkompimcam).

“Kami imbau tingkatkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Bukan hanya DBD tapi juga penyakit lainnya. Kami libatkan anak-anak sekolah,” ungkapnya.

Dikatakan, tingginya kasus lantaran Kecamatan Sewon berada di wilayah perbatasan yang sebagian besar penduduknya merupakan warga pendatang dan cenderung sibuk. Sehingga tidak mudah untuk melakukan pemantauan. (mel/bah)

Bantul