RADAR JOGJA – Kabupaten Bantul terletak kawasan hilir aliran sungan di Jogjakarta. Dilintasi empat sungai besar. Paling Barat, Sungai Progo, Sungai Winanga, Sungai Opak dan Sungai Oya. Disamping itu, wilayah Bantul memiliki banyak anak sungai, sehingga rawan banjir.

Karenanya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul punya pekerjaan rumah besar dalam penataan bangunan yang berdekatan dengan sungai. Sebab, masih banyak pendirian bangunan di dekat sungai yang berisiko terkena banjir.

Wakil Bupati Bantul Halim Abdul Muslih mengatakan, pendirian bangunan sudah diatur dalam undang-undang. Kendati begitu antara pelaksanaan dan realitas berbeda. Tata ruang bangunan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sebagaimana diatur, bahwa jarak bangunan dan sepadan sungai tidak boleh terlalu dekat.

Hal itu mengacu pada aturan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Bantul Nomor 5/2011 tetang Bangunan Gedung. Dimana, dalam pasal 22 disebutkan, garis sepadan bangunan terhadap sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 meter dari kaki tanggul. Sedangkan, penetapan sungai tak bertanggul di luar kawasan perkotaan, jika sungai besar, berjarak minimal 100 meter. Sedangkan sungai kecil berjarak minimal 50 meter.

Kendati begitu, tidak sepenuhnya mengacu pada aturan. Halim menilai, semua berdasarkan pemanfaatannya. “Karena penegakan undang-undang itu kan berdasarkan asas manfaat,” ucapnya.

Apabila dilihat dari manfaatnya memenuhi, artinya warga yang tinggal di bantaran sungai diimbau untuk lebih berhati-hati. Antisipasinya, untuk lebih menguatkan bangunannya. Karena dibantaran sungai wilayah yang pertama berisiko banjir.

Ke depannya, dia mendorong lebih tertata. Jangan sampai ada izin mendirikan bangunan (IMB) yang diluncurkan untuk bangunan rumah atau bangunan apapun yang melanggar sepadan sungai itu. “Yang sudah terlanjut ya sudah. Yang belum-belum inilah yang harus dijaga,” imbuhnya.

Dikatakan, untuk membangun talut dan sebagainya tidak mampu jikalau hanya mengandalkan dana pemerintah. Seandainya, pemerintah punya dana memadahi tak menutup kemungkinan direlokasi. “Tapi kita punya uang itu kan sangat terbatas. Yakni, ini pilihan yang tidak mudah,” ujarnya.

Sebelumnya, Muhammad Danuri alias Paiman, 62, warga Padukuhan Manggung Titang, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul,

mengatakan, tujuh rumah di RT 5 kerap terendam banjir. Banjir menggenang setinggi kurang lebih 30 centimeter. Banjir disebabkan air di Sungai Bulus yang bermuara ke Sungai Opak meluap. Banjir tersebut menggenangi rumahnya yang berjarak kurang dari 10 meter dari sungai kecil tersebut.

“Selain karena limpasan dari hulu. Ya karena sungai belum ditalut. Jadi kerap membeludak,” ungkapnya. Dikatakan, apabila hujan menguyur semalam, dipastikan luapan sungai menggenangi rumah warga.  “Kejadian ini sejak 2017 lalu,” katanya. (mel/bah)

Bantul