Siapa sangka, jika kongres aksara Jawa terakhir kali berlangsung pada 1922 silam. Artinya, sejak Indonesia merdeka, perhatian terhadap aksara Jawa mati suri. Setya Amrih Prasaja menggagas kongres tersebut dibangkitkan kembali.

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Setya Amrih Prasaja berusia 39 tahun pada tahun ini. Dia merupakan seorang filolog bahasa dan sastra Jawa di Dinas Kebudayaan DIJ.

Pria yang akrab disapa Amrih ini telah memperjuangkan aksara Jawa agar diakui oleh Unicode sejak 2005. “Tahun 2009, dapat slot unicode. Empat tahun kami berproses,” pria yang pernah mengajar di SMA N 1 Sanden itu.

Selama ini, aksara Jawa dikenal secara umum memiliki 20 karakter. Padahal, sesungguhnya hal tersebut salah. Amrih telah menyederhanakan aksara Jawa yang sebenarnya berjumlah 91 karakter.  “Ketika banyak yang bilang, aksara jawa kok ada tambahan. Bukan. Itu sudah ada sejak dulu, tapi tidak aktif atau tidak digunakan,” jelasnya.

Amrih mengawali reviltalisasi aksara Jawa bersama dengan Komunitas Sego Jabung. Dalam komunitas tersebut, ia aktif memperkenalkan kembali aksara Jawa. Pertama-tama ia menyasar muridnya, yang telah secara aktif bersentuhan dengan komputer. Anak generasi milenial tersebut diajak untuk memulai menulis status di media sosial dengan aksara Jawa. “Anak-anak itu bisa nulis halus, terus saya ajarkan menulis aksara Jawa secara digital,” ceritanya.

Bersama komunitasnya, mereka membidik relawan yang paham dengan aksara Jawa. Tidak hanya berdasar pada pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah saja. Tapi memahami aksara Jawa sebagai sistem tata tulis dan sebagai karakter. ”Tidak hanya berhenti sebagai aksara Jawa sebagai filosofi yang selama ini kita kenal, hanacaraka saja,” lanjutnya.

Setelah mengabdi di Dinas Kebudayaan DIJ, Amrih ingin melegitimasi isu-isu mengenai aksara Jawa. Karenanya, ia menggagas Kongres Bahasa Jawa. “Sudah mulai masuk pra kongres yang akan dilaksankan 17 hingga 19 Maret. Kongresnya akan kami gelar bulan Juli,” terangnya.

Kongres tersebut juga menjadi menjadi respon keprihatinan Amrih dan para penggiat aksara Jawa. Masyarakat, menurutnya belum sepenuhnya percaya diri dengan aksara Jawa yang merupakan salah satu bentuk identitas. “Ketika mau nulis tanggung, nggak pernah konsultasi ke instansi yang berkompeten. Sehingga di lapangan kita temukan banyak kesalahan,” jelasnya.

Bahkan, di bandara internasional yang baru dibangun pun salah. Itu karena memang tidak ada pemahaman yang sama.

Diakuinya aksara Jawa oleh akan mematenkan identitas. Jadi tidak mungkin ada yang berani mengklaim sepihak “Kita termasuk yang telat. Karena yang mengawali Bali, Bugis, di susul Sunda, baru Jawa,” ujarnya lantas tertawa. (bah)

Bantul