RADAR JOGJA Sampai saat ini, banyak orang tua yang belum menyadari efek negatif susu kental manis (SKM). Selain itu banyak yang yang menganggap SKM adalah minuman yang direkomendasikan untuk mendukung kesehatan dan pertumbuhan anak.

Padahal, menurut penelitian Dr Dodik Briawan peneliti dari Intistut Pertanian Bogor (IPB), kadar gula dalam SKM tidak cocok dikonsumsi anak secara rutin. Kandungan susunya hanya 2-5,5 gram.”Lemak jenuh yang dikandung memiliki dampak negatif bagi kesehatan kardiovaskure, kardiovaskuler,” terang Pelaksana Harian Kadinkes DIJ Drh. Berty Murtiningsih, Kamis (20/2).

Dia menjelaskan itu saat edukasi gizi dan cara bijak mengkonsumsi susu kental manis (SKM) dalam rangka menyambut Hari Gizi Nasional 2020,  yang diadakan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan PP Muslimat.

Sebenarnya kandungan gula dan susu dalam SKM sudah ada dalam labelnya. Jadi, konsumen harus bijak. Dalam label tertera tidak untuk bayi di bawah satu tahun. Tetapi di bawah tiga tahun juga tidak bagus karena akan membuat anak adiksi. “Juga menolak makanan yang manisnya di bawah SKM,” jelas Dr Diah Tjahjonowati, mewakili kepala Balai POM DIJ.

Terkait dampak SKM ini, Menteri Keuangan dalam rapat kerja di DPR telah mengajukan usulan pemungutan cukai. Untuk minuman berpemanis tinggi dan konsentrat yang dikemas dalam bentuk kemasan. Pemerintah menganggap minuman dengan kadar gula tinggi dapat membahayakan kesehatan. Sehingga harus dikendalikan konsumsinya. “Bayangkan kalau minuman tinggi gula seperti kental manis di konsumsi anak, akan jauh lebih berbahaya”, tambah ketua harian YAICI Arif Hidayat.

YAICI bekerjasama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN) Makassar dan Stikes Ibnu Sina Batam melakukan survei tentang Persepsi Masyarakat tentang SKM di Batam dan Kendari. Hasilnya, sebanyak 97 persen ibu di Kendari dan 78 persen ibu di Batam memiliki persepsi bahwa susu kental manis adalah susu yang bisa dikonsumsi layaknya minuman susu untuk anak.

Mereka juga melakukan survey di beberapa kota lainnya seperti Batam, Aceh, Sulawesi Utara dan Manado, hasilnya kurang lebih sama. Masyarakat masih beranggapan bahwa susu kental manis adalah susu. “Salah satu penyebabnya adalah pengaruh iklan susu kental manis di televisi yang selama bertahun-tahun dicitrakan sebagai minuman bergizi untuk keluarga,” jelasnya. (cr2/din)

Bantul