RADAR  JOGJA Perayaan Imlek biasa disemerakkan dengan sajian menu berbahan ikan. Menjelang Imlek yang jatuh 25 Januari nanti, harga ikan mulai naik. Termasuk ikan bawal hasil tangkapan nelayan.

Warga Tionghoa Jimmy Sutanto mengatakan, si satu sisi ikan merupakan pelengkap menu. Di sisi lain, pelafalan ikan dalam bahasa Mandarin adalah yu. Kata yu dapat pula bermakna sisa hasil usaha (SHU).

”Makanya banyak gambar di dinding itu gambar ikan. Nanti kadang-kadang di situ ada tulisannya. Nien nein yu yi artinya setiap tahun selalu ada SHU,” jelasnya Rabu  (22/1).

Menurutnya, ikan menjadi kiasan tentang keberuntungan. ”Jadi, orang Tionghoa selalu bilang harus ada ’yu’. Kalau tidak, berarti rugi,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Depok, Bantul, Tarmanto mengatakan, harga ikan bawal masih relatif stabil. Namun, harga bawal memang sempat mengalami kenaikan bebarapa waktu lalu.

”Sepuluh hari sebelum Imlek mencapai Rp 320 ribu per kilogram. Sekarang telah normal kembali menjadi Rp 250 ribu per kilogram,” katanya.

Darjo Sumarto, nelayan di Pantai Depok, menyatakan harga ikan bawal masih mengalami kenaikan. ”Ikan bawal naik. Sekilo Rp 300 ribu. Yang super Rp 330 ribu (per kilogram). Kalau nggak Imlek, cuma Rp 250 ribu yang besar (per kilogram),” ungkapnya.

Menurutnya, musim penghujan yang saat ini diselingi panas menjadi kendala untuk menangkap bawl. Kondisi cuaca tersebut membuat nelayan tidak dapat panen bawal.

”Hujannya lambat kan ini. Ikan-ikan yo lambat. Biasanya nelayan banyak uang. Ini nggak ada uang,” kata Darjo. (cr2/amd)

Bantul