RADAR JOGJA – Warga Padukuhan Ngrancah, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul masih dilanda kekeringan. Warga yang berada di pinggiran Sungai Oya itu mengandalkan air air bersih kiriman tangki untuk kebutuhan sehari-hari. Sumur-sumur di padukuhan tersebut kering.

Warga RT 1 Ngrancah yakni Payo, 50, mengatakan, sumber air di dalam sumur tidak mengalir meski saat ini sudah memasuki musim hujan sebagian. Sumur hanya mampu menampung air hujan.

Namun, air tersebut tidak layak dikonsumsi. Airnya keruh. Warnanya kecoklatan. Berbau teyeng.

“Untuk minum, ya harus ngangsu di bak penampungan yang sudah tersedia,” ungkap Payo kepada Radar Jogja Senin (6/1).

Menurutnya, RT 1 terdiri 65 kepala keluarga. Setiap rumah mengandalkan air untuk konsumsi yang dikirim menggunakan kendaraan tangki. Untuk kebutuhan mencuci, warga mengandalkan air tampungan hujan. Ada pula yang mengambil air di sumur pantek yang berada di persawahan.

“Kalau air tangki ini menampung lima ribu liter air bersih. Biasanya dapat bantuan. Kalau ngga ya iuran per dua hari Rp 20 ribu per rumah,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kondisi ini terjadi sejak Badai Cempaka pada 2017 lalu. Setelah bencana itu, sumber air di sumur menjadi tidak mengalir. Terutama sumur yang berlokasi di pinggiran Sungai Oya.

Saat musim kemarau, warga memompa air sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, aktivitas itu saat ini sudah berhenti. “Pompa sudah dicopot. Takut hanyut,” ucapnya.

Sementara itu, Panut, koordinator Air Bersih Ngrancah, mengatakan, terdapat delapan bak penampungan yang tersebar di RT 1. Tujuh bak di antaranya bermuatan dua ribu liter. Satu bak bermuatan lima ribu liter.

Untuk mencukupi kebutuhan air, setiap dua hingga tiga hari sekali dilakukan tujuh kali droping air bersih menggunakan kendaraan tangki. Tiap tangki memuat lima ribu liter air. “Tujuh tangki itu untuk empat RT. RT 1 hingga RT 4,” katanya. (mel/amd)

Bantul