BANTUL – Fenomena warga memanfaatkan pipa PDAM yang bocor tidak hanya di Gunungkidul. Warga RT 05 Sumur Bandung, Ngelosari, Srimulyo, Piyungan juga melakukan hal serupa. Itu terpaksa dilakukan untuk menghemat biaya pengeluaran.

Ranti, warga setempat mengungkapkan, warga Sumur Bandung saat musim kemarau selalu kekurangan air bersih. Lantaran warga hanya mengandalkan bak penampungan air, sehingga warga harus membeli air. Harganya Rp 100 ribu per tangki.

”Air dari pipa (PDAM) ini sangat membantu. Air yang kami beli bisa bertahan sebulan,” jelas Ranti di sela mengambil air pipa PDAM yang bocor Senin (1/7).

Dulu, kata Ranti, di wilayahnya ada instalasi sumur. Hanya, instalasi bantuan dari pemerintah itu belakangan tak berfungsi. Lantaran volume air yang mengalir ke rumah warga sangat kecil. Tidak mampu memenuhi kebutuhan warga sehari-hari.

”Seperti mandi, mencuci, dan masak,” ucap Ranti mengaku setiap hari mengambil tiga sampai empat galon dari pipa PDAM.

Kendati ada sumber air tambahan, Ranti khawatir kebutuhannya membengkak saat puncak musim kemarau. Dia memperkirakan dalam sebulan membutuhkan sekitar dua tangki air berkapasitas 5.000 liter.

”Kalau beli Rp 200 ribu per bulan,” katanya.

Dari itu, dia berharap pemerintah turun tangan memberikan solusi. Agar warga Sumur Bandung tak lagi membeli air dari pihak swasta.

”Di RT 05 ada 16 KK dengan 54 jiwa,” sebutnya.

Anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Srimulyo Sukoadi membenarkannya. Menurutnya, hingga sekarang belum ada solusi penanganan dampak musim kemarau di RT 05. Sebab, letak RT 05 berada di wilayah perbukitan.

”Warganya juga kurang kompak,” katanya. (cr6/zam/fj)

Bantul