BANTUL – Pondok Pesantren Penghafal Alquran (PPPA) Raudhatul Jannah menggelar dialog Pengembangan Pariwisata Halal dan berbagi cinta dengan duafa dan anak yatim piatu. Bertempat di Kawasan Pantai Selatan DIY, Selasa (28/5).

“Sengaja mengambil momentum Kebangkitan Nasional 20 Mei. Untuk meningkatkan ketakwaan para santri dan jamaah. Agar lebih mendekatkan diri kepada Allah. Men-tadabbur-i Alquran untuk meresapi kata demi kata, ayat demi ayat, dan surat demi surat,” kata pasangan pemilik PPPA Radhatul Jannah, Bondowaluh Karang, Poncosari, Ustadz Drs Sidiq Pramana Widagda MM, dan Ustadzah DrRerNat Hj Lina Aryati MS.

Acara tersebut memberikan penjelasan tentang metode menghafal Alquran. Dengan berbagai alternatif pilihan cara. Serta pentingnya mengaplikasikan tuntunan Alquran dalam kehidupan bermasyarakat.

Acara dilanjutkan dialog wisata halal bersama Tim Percepatan Wisata Halal, Kementerian Pariwisata, Ustadz Tazbir Abdullah. Hadir Ketua IHGM dan IHGMA, Ekies dari Lily Tour, dan Bambang Eko dari Garuda Airline mewakili Tour Wisata Halal.

Ustadz Tazbir mengatakan, pariwisata halal bukan berarti pengunjung harus muslim. Tetapi dikonsep secara islami pengelolaannya.

Melalui wisata halal, diharapkan menjadi pelayanan yang sesuai karakter masyarakat. Misalnya, menerapkan sistem harga produk yang wajar. Menerapkan kejujuran.

”Pengembangan lainnya dengan pelayanan paket wisata pondok. Bisa menikmati pantai sekaligus belajar ngaji di pondok,” ungkap Ustadz Tazbir.

Staf Ahli Menteri Bidang Pemberdayaan Ekonomi Umat, Dr Yuli Winarno mengatakan, wisata halal penting dan mendesak untuk dilaksanakan. Wakil dari UIN, Dr Wuri yang banyak berkecimpung di UKM, mendukung ide ini.

Tim inti Kemenpar dan pengurus PPPA Raudhatul Jannah akan segera melakukan survei ke masyarakat sekitar pondok. Untuk segera mewujudkan wisata halal tersebut.

Sementara wakil dari FKH UGM, Prof Dr Hj Hartiningsih MP sudah mulai merintis edupark. Mengajarkan beternak kambing di sekitar pondok.

Nantinya menjadi alternatif meningkatkan ekonomi masyarakat. Warga bahu-membahu menginventarisasi potensi industri kerajinan dan makanan khas setempat. Seperti rumah joglo, limas an, yang berpotensi dijadikan homestay.

Pembicara lain, Prof Dr Sugeng Budiraharjo dari peta tersebut bisa diketahui potensi yang bisa dimaksimalkan. Kunjungan sebaiknya dari desa mana dulu. Lalu di desa mana.

Masyarakat Bodowaluh, Karang, RT4, Poncosari, Srandakan, Bantul berupaya mengembangkan pariwisata untuk menunjang perekonomian. Berada di wilayah yang lekat dengan pondok pesantren, dan terletak di Kawasan Pantai Selatan, menjadi target pengelolaan wisata bernuansa islami. Berpotensi menjadi desa wisata halal. (*/a11/iwa/zl)

Bantul