BANTUL – Kebutuhan telur di Bantul cukup tinggi. Namun produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga harus didatangkan telur-telur dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini disampaikan Kepala Bidang peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan (Disperpautkan) Kabupaten Bantul Joko Waluyo di kantornya, Senin(8/7).

Dikatakan, kebutuhan telur semakin meningkat seiring banyaknya pedagang yang menjual makanan berbahan dasar telur. Dia menyebut, kebutuhan telur di Bantul didominasi pedagang mi, martabak dan penyuplai telur asin. Sementara peternak unggas masih minim yakni di Srandakan, Kretek, Sanden, dan Bambanglipuro. Sementara Sedayu, Pajangan, Jetis, dan Imogiri baru merintis.

“Kalau produksi daging ayam masih mencukupi. Kalau telur ayam dan telur itik, masih kurang,” ungkapnya. Dia mengatakan, tingginya produksi daging ayam dapat dilihat banyaknya tempat pemotongan ayam, yakni 800 titik pemotongan. Sedangkan produksi ayam petelur minim karena produksi telur ayam tertinggi di wilayah Pajangan.

Dia mengungkapkan, hingga akhir 2018 total produksi telur dalam setahun sebanyak 7.378.691 kg. Meliputi telur ayam buras mencapai 564.282 kg, lebih sedikit dibandingkan jumlah ayam ras petelur sebanyak 5.787.854 kg dan telur itik 1.026.555 kg. Sementara pasokan telur ayam Jawa minim. Rata-rata produksi oleh warga dalam jumlah kecil.

Oleh karana itu dia mengajak masyarakat agar membuka peluang ternak ayam atau itik. Namun juga harus menentukan lokasi usaha yang pas. Tidak mengganggu kenyamanan warga sekitarnya.

Di tempat yang sama, staf kesehatan hewan Disperpautkan Harsana menambahkan, telur dengan omega tinggi dihasilkan oleh ternak berlokasi di area pantai. Kandungan omega tinggi jika kuning telur berwarna cerah dan sedikit keorenan.

Untuk penyimpanan, telur dapat bertahan selama 15 hari. Jika dimasukkan dalam almari pendingin, mampu bertahan hingga satu bulan. “Biasanya telur omega tinggi ini sering dicari. Manfaatnya juga bagus untuk kecerdasan bayi,” tuturnya.

Peternak itik Tujono, 45, asal Bakulan, Patalan, Jetis, Bantul, mengaku dalam satu hari produksi telur hasil ternaknya mencapai 2.000 butir. Telur didistribusikan ke berbagai pedagang makanan hingga penetas. “Ya, permintaan telur semakin naik. Telur selalu habis terjual,” ungkapnya Senin(8/4). (cr6/laz/mg3)

Bantul