BANTUL – Pelan tapi pasti dunia literasi di Kabupaten Bantul terus berkembang. Itu terlihat dengan perkembangan dan kemajuan perpustakaan. Terutama perpustakaan yang menjadi binaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bantul. Mulai perpustakaan desa, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan komunitas.

Kepala Bidang Perpustakaan, Dispusip Bantul Dra Eny Laksmitowati MM mengungkapkan, dinas memiliki data komplet perpustakaan. Itu diperoleh dinas saat melakukan sensus. Dari sensus itu diketahui berapa jumlah perpustakaan di Bumi Projo Tamansari. Berikut kondisinya.

”Kemudian dibuat klasifikasi,” jelas Eny di kantornya Selasa (27/11).

Dari klasifikasi perpustakaan inilah dinas melakukan pemetaan. Satu di antara klasifikasi, Eny menyebut adalah perpustakaan yang membutuhkan pembinaan secara intens. Sebagai langkah pembinaan, dinas rutin mendatangi satu per satu perpustakaan. Minimal 15 perpustakaan dalam sebulan. Teknisnya, dinas menyoroti berbagai hal yang harus dibenahi. Misalnya, sarana prasarana (sarpras) dan pengolahan koleksi judul buku.

Klasifikasi lainnya adalah perpustakaan yang siap untuk akreditasi. Menurutnya, upaya pembinaan untuk persiapan akreditasi lebih intens. Agar perpustakaan memenuhi enam syarat komponen. Yaitu, koleksi, sarpras, pelayanan, tenaga, penyelenggaraan dan pengolahan, serta penguatan kinerja.

”Setelah memenuhi syarat komponennya, langsung kami ajukan akreditasi,” ucapnya.

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Agar pembinaan menuai hasil maksimal, kata Eny, dinas melakukan monitoring dan evaluasi (monev). Seluruh perpustakaan yang telah mendapatkan pembinaan diikutkan lomba. Tingkat kabupaten. Namun, lomba ini disesuaikan dengan jenis perpustakaannya.

”Perpustakaan desa ikut lomba perpustakaan desa. Begitu pula dengan perpustakaan sekolah ataupun komunitas,” ujarnya.

Apakah monev hanya berhenti di lomba tingkat kabupaten? Eny memastikan tidak. Seluruh perpustakaan yang masuk dalam tiga terbaik bakal didaftarkan akreditasi. Hingga sekarang ada 11 perpustakaan di Kabupaten Bantul yang telah terakreditasi. Meliputi dua perpustakaan desa, lima perpustakaan sekolah dasar (SD), dan tiga perpustakaan sekolah menengah pertama (SMP).

”Satunya perpustakaan umum Kabupaten Bantul,” katanya.

Yang menarik, Kabupaten Bantul menjadi pionir akreditasi perpustakaan desa. Kepala Dispusip Bantul Drs Agus Sulistiyana MM mengungkapkan, baru dua perpustakaan desa di Indonesia yang memperoleh akreditasi. Keduanya berasal dari Kabupaten Bantul. Yaitu, Perpustakaan Desa Wukirsari dan Perpustakaan Desa Dlingo. Keduanya dapat akreditasi A.

”Koleksi setiap perpustakaan desa sekitar 5000-an judul buku,” sebutnya.

Jumlah perpustakaan terakreditasi, menurut Agus, bakal bertambah. Sebab, dispusip mengajukan sembilan perpustakaan mengikuti akreditasi tahun depan. Perpustakaan desa, perpustakaan SD, dan perpustakaan SMP masing-masing tiga.

”Kami terus mendorong bagaimana perpustakaan harus berstandar dan mendapat akreditasi,” tegasnya.

Dengan masifnya gerakan literasi, Agus melihat, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perpustakaan meningkat. Tidak sedikit warga yang mengambil peran memajukan perpustakaan di wilayahnya masing-masing. Sebagian ada yang menyumbangkan koleksi buku pribadinya. Ada pula yang memberikan bantuan sarpras.

”Ada juga warga yang kreatif. Mereka mengubah barang bekas menjadi meja di perpustakaan,” jelasnya.

Dari itu, Agus optimistis seluruh jenis perpustakaan bakal berkembang pesat. Mulai perpustakaan desa, sekolah, ataupun komunitas. Meski jumlah setiap jenis perpustakaan ini sangat banyak. Sebab, setiap pengelola maupun masyarakat memiliki kepedulian.

”Seperti di sekolah. Siswa baru maupun lulusan punya tradisi menyumbang satu buku untuk perpustakaan sekolahnya,” tambahnya.

Bupati Bantul Suharsono mendukung kemajuan dunia literasi. Pun dengan perpustakaan. Itu dibuktikan dengan penambahan sarana pendukung perpustakaan. Contohnya, armada untuk perpustakaan keliling.

”Untuk sementara satu unit dulu. Karena anggarannya terbatas,” tambahnya. (**/zam/by/mg3)

Bantul