BANTUL – Hanya berselang tiga hari, konstalasi politik di parlemen Bantul berubah drastis. Tadi malam (13/2), DPRD Bantul akhirnya sukses menggelar rapat paripurna (rapur) kocok ulang alat kelengkapan (alkap) DPRD Bantul.

Menariknya, komposisi fraksi yang menggulirkan kocok ulang alkap ini berbeda dengan Jumat (10/2) lalu. Fraksi Partai Gerindra dan Fraksi PKS yang notabene sebagai partai pengusung dan pendukung bupati-wakil bupati ditinggal begitu saja. Juga, Fraksi PPP. Padahal, fraksi-fraksi inilah yang ikut berperan menggulirkan kocok ulang alkap gagal Jumat lalu.
Sebagai gantinya, Fraksi Partai Golkar dan Fraksi PAN yang notabene bakal ditinggal pada kocok ulang awal justru masuk daftar. Sehingga komposisi pimpinan alkap baru ini diisi Fraksi PKB, Fraksi PDIP, Fraksi Partai Golkar, Fraksi PAN, dan Fraksi Nasional Bintang Demokrat. Praktis sejumlah jatah slot pimpinan alkap yang sebelumnya dipegang Fraksi PKS, Fraksi PPP, dan Fraksi Gerindra melayang.
Gesekan antar-anggota fraksi selalu terjadi dalam pengisian alat kelengkapan (alkap) di lembaga legislatif. Setelah Fraksi Gerindra dan PKS di DPRD Sleman yang seolah tak diperhitungkan oleh fraksi lain, demikian pula FPAN dan Golkar di parlemen Bantul.
Bedanya, di kocok ulang komposisi alkap di Sleman telah diputus. Sementara iklim politik di Bumi Projotamsari jutru sedang memanas.
Pembagian alkap seharusnya diputus Jumat malam (10/2). Namun gagal.
Itu lantaran FPDIP belum berani memutuskan bergabung atau kontra dengan rombongan fraksi yang menginisiasi kocok ulang alkap ini. Sehingga Badan Musyawarah (Banmus) tidak berani menjadwalkan rapat paripurna.
Komposisi alkap baru kali ini memang jauh berbeda dengan racikan pasca pemilihan presiden (pilpres) 2014. Sumber Radar Jogja di parlemen Bantuk menyebut, FPAN dan Golkar yang selama ini tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) kabarnya ditinggal. Sebagai gantinya, masuk FPKB dan FPDIP, yang dulu merupakan koalisi partai pendukung pemerintah. Dengan begitu, komposisi koalisi baru ini meliputi FPPP, FPKS, FPDIP, Fraksi Gerindra, dan PKB.
Ketua DPD PAN Bantul Mahmud Ardi Widanto membenarkan adanya rencana perombakan alkap. Wakil ketua dewan Bantul ini juga mengamini bila partai yang dipimpinnya bakal ditinggalkan. Sebab, partai berlambang matahari terbit ini tetap keukeuh dengan formasi semula. Tidak ada perubahan.
Begitu pula dengan slot pimpinan alkap. Menilik formasi alkap lama, FPAN memegang sejumlah kursi pimpinan alkap. Antara lain, ketua komisi C, sekretaris komisi D, dan ketua Badan Kehormatan.
Sementara rombongan yang menginisiasi wacana kocok ulang tidak sependapat dengan komposisi lama. Merasa berseberangan, FPAN pun menolak hadir dalam setiap pertemuan lobi-lobi politik.”Jumat lalu juga tidak diajak komunikasi,” beber Ardi.
Ardi menyadari, posisi pimpinan alkap milik FPAN bakal terancam. Kendati begitu, Ardi mengaku tidak merisaukannya. FPAN siap kehilangan berbagai posisi jabatan itu.”Politik kan dinamis. Tapi kami tetap menjalin komunikasi,” ucapnya.
Senada disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Bantul Paidi. Politikus asal Bambanglipuro ini ragu kocok ulang alkap yang dianggap bakal merugikan partainya bisa terealisasi. Sebaliknya, Paidi malah yakin bakal ada kejutan baru.”Tunggu besok tanggal mainnya,” ucapnya merahasiakan.
Ketua FPDIP Timbul Sarjana berdalih tidak mendengar adanya rencana kocok ulang.”Belum ada yang menghubungi (untuk komunikasi politik) juga,” kelitnya.
Berbeda dengan Timbul, Ketua FPKB Subhan Nawawi menanggapi santai rencana kocok ulang alkap ini. Bagi Subhan, PKB tidak rugi maupun untung dengan terealisasi atau tidaknya kocok ulang alkap.”Kami sudah terbiasa. Dulu kami juga tidak punya jatah kursi apa-apa,” katanya enteng.(zam/yog/mg1)

Bantul