BANTUL – Buku Sarinah karya Bung Karno yang diterbitkan kali pertama 1947 kembali dibedah. Kali ini diinisiasi Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIJ. Mantan Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu dan Ketua DPRD Bantul periode 2004-2009 Tustiyani tampil sebagai pembedah. Mereka bersanding dengan Dosen Sekolah Vokasi UGM Wahyudi Jaya.

“Membaca buku Sarinah tidak bisa sekali. Harus dibaca berulang-ulang,” kata Yuni di Grhatama Pustaka BPAD DIJ Janti, Banguntapan, Bantul, kemarin (8/2)

Buku Sarinah, tutur Yuni, menyimpan banyak hal penting terkait dengan peranan perempuan. Karena itu, dia berpesan setiap perempuan Indonesia wajib membaca buku tersebut.

Yuni mengaku sulit membayangkan kapan waktunya Soekarno menulis buku tersebut. Sebab, pada masa-masa itu presiden pertama RI itu tengah berjuang dalam kancah revolusi fisik.

“Referensi yang digunakan Bung Karno luar biasa,” ucapnya.

Dengan membaca buku tersebut dapat diketahui pandangan Bung Karno tentang sosok perempuan. Di mata presiden yang terlahir dengan nama kecil Koesno ini, perempuan bukan sekadar berwajah cantik. Kecantikan juga dilihat dari tutur kata, pengetahuan, dan tingkah laku. “Perempuan harus bisa diajak diskusi dan dituntut dapat mandiri,” ujar suami Muh Yamin ini.

Wahyudi membenarkan ucapan Yuni. Membaca buku Sarinah tak bisa satu kali karena buku itu tidak dilengkapi dengan editor. “Jadi wajar untuk membacanya butuh pendalaman,” tutur dia.

Dari buku Sarinah terungkap pesan tentang besarnya peranan perempuan bagi perubahan. Bahkan kunci revolusi dunia ada di tangan kaum hawa tersebut.

“Kekuatan perempuan dengan kasih sayang dan keibuan, bukan dari kekuatan,” tegasnya.

Jalur untuk melakukan perubahan tersedia bagi peremuan. Di antaranya melalui serikat pekerja, koperasi dan partai politik. “Sarinah berpesan nasib perempuan ada di tangan perempuan sendiri,” jelas Wahyudi semangat.

Sedangkan Tustiyani lebih mengupas tentang praktik emansipasi perempuan. Meski terdapat kesetaraan, perempuan tetap tidak dapat meninggalkan peran domestik. Sebelum keluar dari rumah, urusan tersebut harus sudah selesai.

“Sebagai ibu rumah tangga itu harus bangun paling awal dan tidur belakangan,” ingatnya.

Karena itulah, perempuan yang berkarya di luar rumah dituntut mampu membagi peranannya secara seimbang. Nah di sini, lanjut anggota DPRD DIJ itu, letak kekuatan luar biasa kaum perempuan.

“Perempuan itu paling kuat dan dapat diandalkan. Itulah superwoman,” ujar politikus yang tinggal di Parangtritis, Bantul ini. (kus/ila/mg2)

Bantul