Kopi Merapi Tak Cuma Soal Rasa, Kini Didorong Jadi Sumber Penghasilan Warga

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:57 WIB
Ilustrasi Kopi yang dibudidayakan di kawasan lereng Gunung Merapi.
Ilustrasi Kopi yang dibudidayakan di kawasan lereng Gunung Merapi.

 RADAR JOGJA – Di lereng Gunung Merapi, kopi bukan hanya soal rasa dan aroma dalam secangkir minuman. Tanaman yang tumbuh di kawasan perkebunan rakyat tersebut kini dilirik sebagai salah satu sumber penghasilan alternatif bagi masyarakat sekitar.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong pengembangan kopi lokal di lereng Merapi, Kabupaten Sleman. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi pilihan mata pencaharian warga sekaligus membantu menjaga kawasan Merapi agar tidak terus bergantung pada aktivitas penambangan.

Dorongan itu disampaikan Sultan saat menyerahkan 46 sertifikat hak milik (SHM) hunian tetap kepada warga terdampak erupsi Gunung Merapi 2010 di Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Selasa (29/9/2026).

Menurut Sultan, potensi kopi Merapi perlu dikelola secara lebih terarah. Tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga melalui pengelolaan bersama dan pemasaran yang lebih kuat. Dengan begitu, kopi lokal tidak berhenti sebagai hasil perkebunan, tetapi dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Baca Juga: Audiensi Tambang Pasir Tuksono Kulon Progo Berakhir Buntu, Warga Bingung Hendak Mengadu ke Mana Lagi

Pengembangan kopi juga diarahkan menjadi alternatif bagi warga yang selama ini memperoleh penghasilan dari aktivitas di kawasan Merapi. Pemanfaatan lahan untuk perkebunan kopi diharapkan dapat membuka sumber pendapatan lain tanpa harus mengandalkan kegiatan yang berpotensi memberikan tekanan terhadap lingkungan.

Potensi tersebut menjadi semakin menarik karena kawasan lereng Merapi memiliki kondisi alam yang mendukung kegiatan perkebunan sekaligus memiliki daya tarik wisata. Kopi yang berasal dari kawasan pegunungan dapat menjadi bagian dari produk lokal yang memiliki identitas wilayah.

Jika dikelola dengan baik, pengembangan kopi Merapi tidak hanya menyangkut petani. Rantai ekonominya dapat melibatkan berbagai pihak, mulai dari pengolahan hasil panen, pengemasan, pemasaran hingga pengembangan produk turunan.

Hal itu membuat kopi memiliki peluang untuk menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar Merapi. Apalagi pemasaran produk lokal saat ini dapat menjangkau konsumen yang lebih luas melalui berbagai saluran, termasuk platform digital.

Namun, pengembangan ekonomi tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan. Sultan juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan Merapi melalui penghijauan dan penguatan vegetasi.

Baca Juga: Kerugian Keuangan Negara Rp 2,7 M, Kejati DIY Tetapkan 2 Tersangka Korupsi BUKP Tegalrejo

Upaya tersebut memiliki fungsi penting bagi kawasan lereng gunung. Vegetasi yang terjaga dapat membantu mempertahankan kondisi lingkungan dan mengurangi risiko longsor maupun dampak material ketika aktivitas vulkanik Merapi meningkat.

Karena itu, pengembangan kopi Merapi memiliki dua sisi yang saling berkaitan. Di satu sisi, tanaman kopi dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Di sisi lain, pengelolaan perkebunan dapat diarahkan untuk tetap menjaga keberadaan vegetasi dan kondisi lingkungan di lereng Merapi.

Potensi kopi lokal tersebut juga menunjukkan bahwa kawasan sekitar gunung api tidak hanya memiliki tantangan berupa risiko bencana. Di balik kondisi alamnya, terdapat sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara berkelanjutan.

Bagi warga di lereng Merapi, secangkir kopi akhirnya bisa memiliki cerita yang lebih panjang. Bukan sekadar minuman yang diseduh dan dinikmati, tetapi juga bagian dari upaya membangun sumber penghasilan sekaligus menjaga lingkungan tempat masyarakat hidup.

(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Sumber: ANTARA News.

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
soal rasa penghasilan Kopi kopi merapi SUMBER