RADAR JOGJA - Pabrik Gula Madukismo merupakan satu-satunya pabrik Gula di Yogyakarta yang masih bertahan dan beroperasi hingga kini.
Pabrik ini terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, didirikan pada tahun 1955 atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX.
Keberadaan pabrik ini mencerminkan perjalanan panjang industri gula di Indonesia.
Di tengah perkembangan zaman, Madukismo masih mempertahankan sejumlah mesin dan teknologi peninggalan era kolonial yang menjadi bagian dari nilai sejarah sekaligus perkembangan industri gula.
Baca Juga: Dunia Kerja Mulai Berubah, Green Jobs Buka Peluang Baru untuk Anak Muda
Tak hanya menyimpan sejarah, Pabrik Gula Madukismo juga menawarkan pengalaman factory trip bagi wisatawan.
Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa pabrik gula yang berada di Yogyakarta ini dapat dikunjungi dan menjadi wisata edukasi keluarga.
Wisatawan dapat melakukan trip agrowisata ini dengan melakukan reservasi terlebih dahulu.
Setelah mendapat konfirmasi, wisatawan dapat menyusuri area pabrik gula ini menggunakan kereta tebu dengan kereta diesel buatan Jerman yang gerbongnya sudah dimodifikasi sebagai gerbong wisata.
Baca Juga: Jadwal dan Kick Off Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026, Singapura jadi Lawan Perdana
Memasuki kawasan pabrik, pengunjung akan disambut suasana khas kawasan industri yang masih terasa kuat.
Deretan bangunan tua berukuran besar, halaman yang luas, hingga keberadaan mesin-mesin kuno dan rel pengangkut tebu menjadi pemandangan yang memperkuat nuansa sejarah di dalam area pabrik.
Selama periode Mei hingga September, pengunjung dapat melihat secara langsung rangkaian proses pembuatan gula di dalam pabrik.
Baca Juga: Evaluasi Regrouping Sekolah, DPRD Kulon Progo Sebut Disdikpora Tak Lakukan Pendekatan Sosial
Proses ini dimulai dari pemerahan nira, pengambilan sari gula, pemurnian nira melalui proses sulfitasi, penguapan, kristalisasi, hingga tahap puteran dan pengemasan gula.
Selain itu, pengunjung juga berkesempatan melihat tradisi Cembengan yang digelar oleh warga sekitar bersama para karyawan pabrik.
Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sebelum musim giling, sebagai bentuk doa dan permohonan agar seluruh proses penggilingan tebu dapat berlangsung dengan lancar.
Untuk bisa mengikuti trip ini, pengunjung perlu membayar sejumlah tarif wisata.
Jika rombongan lebih dari 30 orang, maka setiap orang dikenakan ongkos Rp 13 ribu.
Tetapi, jika rombongan kecil kurang dari 30 orang, maka pengunjung akan dikenakan tarif Rp 450 ribu.
Baca Juga: Disutradai Rob Sixsmith, Dokumenter Skenario Sang Jendral di Netflix Bongkar Ulang Kasus Brigadir J
Wisata edukasi ini cocok untuk rombongan sekolah atau kelompok belajar siswa yang ingin merasakan pengalaman proses pembuatan tebu, merasakan sensasi naik kereta api jadul, serta wawasan tambahan cara pengolahan limbah untuk dijadikan pupuk dan spirtus.
Editor : Meitika Candra Lantiva