Mengunjungi Desa Wisata Kebonagung, Imogiri, Bule Amerika Minta Naik Kerbau dari Sekre ke Sawah

Fahmi Fahriza • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 23:45 WIB
para pengunjung saat mendatangi desa wisata Kebonagung
para pengunjung saat mendatangi desa wisata Kebonagung

 

Di tengah menjamurnya desa wisata dengan beragam konsep, Desa Wisata Kebonagung di Kalurahan Kebonagung, Kapanewon Imogiri, Bantul, tetap mempertahankan identitasnya. Sebagai desa wisata edukasi pertanian tradisional yang dipadukan dengan kekayaan budaya masyarakat. 

 

Koordinator Desa Wisata Kebonagung Sardi mengatakan, konsep wisata yang dikembangkan bukan sekadar menghadirkan suasana pedesaan, tetapi memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan untuk mengenal proses bertani sebagaimana dilakukan masyarakat tempo dulu.

 "Desa ini unggulannya pertanian dan budaya. Terutama batik, terus karawitan. Tentunya yang paling tidak pernah ketinggalan itu pertanian," ujar Sardi, Sabtu (1/8).

Baca Juga: Film Istimewa Hadirkan Kisah Keluarga, Disabilitas, dan Arti Pulang

 

Paket wisata pertanian di Kebonagung tidak menampilkan proses modern yang menggunakan alat berat. Sebaliknya, wisatawan diajak merasakan seluruh tahapan bertani secara tradisional, mulai dari memilih benih, menyemai, mencabut bibit, membajak sawah dengan kerbau, menggaru tanah, menanam padi, menyiangi gulma, memanen, hingga mengolah gabah menjadi beras dan memasak nasi secara tradisional.

 

Menurut Sardi, penggunaan kerbau dalam implementasi wisata edukasi justru menjadi daya tarik utama karena sudah semakin jarang ditemui. Ia masih mengingat pengalaman seorang wisatawan asal Amerika Serikat yang meminta menaiki kerbau sejak berangkat dari sekretariat desa wisata menuju area persawahan.

 

Selain pertanian, Desa Kebonagung juga menawarkan berbagai aktivitas berbasis budaya yang dapat dipilih sesuai kebutuhan rombongan. Di antaranya belajar membatik, memainkan gamelan dan karawitan, gejog lesung, membuat gerabah, permainan tradisional, bersepeda mengelilingi desa, hingga mengikuti kenduri bersama warga.

 Baca Juga: Bukan Sekadar Simpul tapi Bisa Atasi Masalah, Tali-menali Pramuka Melatih Ketelitian dan Kesabaran

Desa Kebonagung juga memiliki Museum Tani Jawa yang menyimpan ratusan koleksi alat pertanian tradisional hasil sumbangan masyarakat. Museum itu menjadi media edukasi sekaligus upaya mewariskan nilai-nilai perjuangan petani, seperti kerja keras, kejujuran, kesederhanaan, gotong royong, dan rasa syukur kepada generasi muda.

 

Sardi menuturkan, bahwa Desa Wisata Kebonagung mulai dirintis sejak 1998. Setelah melalui berbagai persiapan, rombongan wisata pertama datang medio 2003, yakni sebanyak 220 siswa SMA Negeri 71 Jakarta yang mengikuti program live in selama tiga hari dua malam di rumah-rumah warga.

 "Tamu pertama dari SMA 71 Jakarta. Setelah sukses, mereka minta kerja sama tiap tahun. Dari situ berkembang terus sampai sekolah-sekolah lain ikut datang," tuturnya.

 Baca Juga: Keterampilan Pramuka Masih Relevan di Era Digital; Perlu Disinergikan dengan Perkembangan Tekonologi

Wisatawan mancanegara pun terus berdatangan. Mereka berasal dari berbagai negara, mulai dari Australia, Amerika Serikat, Kanada, Belanda, Jepang, Jerman hingga Mesir. Mayoritas tertarik mengikuti paket edukasi pertanian dan budaya yang sulit ditemukan di negara asal mereka. "Kalau tamu asing justru yang dicari pertanian. Mereka pasti minta pertanian, batik, atau karawitan. Itu yang paling diminati," ujarnya.

 

Namun demikian, Sardi mengakui tantangan terbesar saat ini bukan lagi promosi, melainkan regenerasi pengelola desa wisata. Menurutnya, minat anak muda untuk membantu saat kegiatan berlangsung sudah mulai tumbuh, tetapi belum banyak yang bersedia aktif dalam kepengurusan. "Kami pelan-pelan menarik mereka sesuai kemampuan dan bidangnya agar nanti bisa meneruskan desa wisata ini," paparnya. (iza/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
desa wisata kebonagung amerika kerbau bule Imogiri