JOGJA - Memasuki Agustus, arus kunjungan wisatawan ke DIY masih berada pada periode ramai. Namun, tingginya kunjungan pada sejumlah momentum tersebut kembali menunjukkan pekerjaan rumah industri pariwisata, yakni distribusi wisatawan yang belum merata sepanjang tahun.
Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan, bahwa periode Juni hingga Agustus memang menjadi salah satu musim ramai bagi pariwisata Jogja.
Selain momentum libur sekolah, periode tersebut juga bertepatan dengan musim kunjungan wisatawan mancanegara.
Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya positif bagi industri. Hanya saja, tingginya kunjungan yang terkonsentrasi pada periode tertentu membuat potensi wisata belum sepenuhnya tersebar untuk menopang periode rendah atau low season.
"Secara ekspektasi sudah cukup bagus. Cuma disayangkan itu yang terjadi masih bertumpuk. Kita sama-sama tahu bahwa Juni, Juli, Agustus itu wismannya cukup tinggi," ujar Bobby.
Ia mengatakan, penumpukan kunjungan semakin terasa ketika periode ramai tersebut bersamaan dengan berbagai event yang menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan. Pada salah satu momentum libur sebelumnya, misalnya, tingkat hunian hotel bahkan disebut telah penuh hingga kawasan Ring 3.
"Kalau kita tambah lagi dengan beberapa event-event menarik itu kan bagus. Agar tidak overbooked di satu periode tertentu," katanya.
Baca Juga: Marvin Loria Jadi Rekrutan Pemain Asing Terakhir PSIM Jogja Jelang Super League 2026/2027
Menurut Bobby, tingginya permintaan pada periode high season seharusnya dapat menjadi momentum untuk memikirkan pemerataan kunjungan ke bulan-bulan lain yang relatif sepi. Dengan demikian, aktivitas industri pariwisata tidak hanya bergantung pada beberapa bulan tertentu.
"Daripada event besar digelar bersamaan di high season, itu bisa diratakan untuk yang low season juga. Agar low season-nya bisa ketolong dengan banyak kunjungan juga," tuturnya.
Karena itu, GIPI berharap pemerintah daerah tidak hanya mendorong penyelenggaraan event untuk mendatangkan wisatawan pada periode yang memang sudah ramai. Berbagai potensi daya tarik wisata dinilai perlu dikombinasikan dan dijadwalkan secara lebih terencana agar dapat mengisi periode low season.
Bobby mengatakan, pemerintah daerah memiliki peran penting untuk mengorkestrasi ulang berbagai event dan potensi wisata tersebut, sehingga tidak menumpuk pada waktu yang bersamaan.
"Kami berharap dukungan dari Pemda itu untuk mengelaborasi dari semua potensial daya tarik ini. Itu yang kita butuhkan sebenarnya," ujarnya.
Menurutnya, penyebaran event menjadi penting karena berbagai daya tarik wisata yang kuat tidak seharusnya hanya dikonsentrasikan dalam satu atau dua hari ketika permintaan wisatawan memang sudah tinggi.
"Situasi ini perlu ditata ya, jangan sampai potensi-potensi yang kuat numpuk di dalam satu dua hari, jadi akhirnya kan sayang, bisa ngisi di posisi-posisi low season," ujar Bobby.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Mbah Warsiati, Lansia Yang Rutin Berkegiatan di Sekolah Lansia Kalimasada
Ia menambahkan, persoalan low season tidak hanya berdampak pada jumlah kunjungan, tetapi juga berpengaruh terhadap keberlangsungan operasional pelaku industri pariwisata.
Ketika permintaan turun, pelaku usaha harus melakukan berbagai penyesuaian untuk menjaga efisiensi biaya.
Bobby menyebut sejumlah periode lain di luar musim ramai masih memiliki ruang untuk didorong, seperti Januari hingga Maret maupun September hingga November. Pemerataan tersebut dinilai penting agar industri pariwisata memiliki aktivitas ekonomi yang lebih stabil sepanjang tahun, bukan hanya ketika memasuki high season.
"Situasi low season kita memang belum terselesaikan untuk bisa upgrade. Yang kedua, tekanan operasional dengan beberapa kenaikan di beberapa faktor di operasional kita, tentunya itu semakin tertekan," jelasnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita