MAGELANG - Pemkot Magelang menyiapkan penataan ulang kawasan Taman Kyai Langgeng. Kios pedagang bakal direlokasi dan membenahi sistem parkir di area depan. Rencana itu ditujukan untuk mengatasi sepinya pengunjung sekaligus membangun ekosistem wisata yang lebih tertata dan saling mendukung.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menuturkan, penataan dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan. Mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga kebutuhan lahan parkir yang selama ini dinilai belum memadai.
"Ada kepentingan UMKM, ada juga kebutuhan parkir. Kalau tidak ditata, kawasan wisata tidak akan berkembang," ujarnya usai tinjauan, Kamis (16/7).
Dalam skema yang disiapkan, area depan Taman Kyai Langgeng akan difungsikan sebagai lahan parkir terbuka untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Sementara itu, kios pedagang akan dipindahkan ke area belakang yang masih tersedia lahan kosong.
Menurut Damar, kondisi saat ini menunjukkan keterkaitan antara penataan kawasan dengan tingkat kunjungan. Dia menilai, sepinya Taman Kyai Langgeng berimbas langsung pada pendapatan pedagang. "Kalau tempatnya tidak tertata, pengunjung sepi, parkir juga sepi, UMKM ikut sepi. Semua itu saling berkaitan," bebernya.
Dari data sementara, terdapat sekitar 80 kios di kawasan tersebut, dengan sekitar 40 di antaranya masih aktif berjualan. Pada tahap awal, relokasi akan difokuskan pada kios aktif tersebut. Selain penataan fisik, pemkot juga akan menerapkan pembatasan kepemilikan kios.
Baca Juga: Jamasan Pusaka Wijaya Mukti Milik Pemkot Jogja, Pengingat Kejayaan Harus Diraih dari Kerja Keras
Satu pedagang nantinya hanya diperbolehkan memiliki satu lapak untuk menghindari penumpukan kepemilikan. "Harus adil, tidak boleh satu orang pegang banyak kios," tegas Damar.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Taman Kyai Langgeng, Surono mengakui, kondisi kawasan wisata tersebut memang mengalami penurunan aktivitas sejak pandemi. Dia menyebut, jumlah pedagang aktif saat ini jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
"Sekarang yang aktif tidak sampai 40. Dulu sebelum Covid-19 masih ramai, sekarang sepi," sebutnya.
Surono mengatakan, penurunan pengunjung berdampak langsung pada pendapatan pedagang, terutama yang menjual suvenir dan aksesori di area depan. Sementara pedagang makanan sebagian besar berada di bagian belakang kawasan.
Dia berharap, rencana penataan berpotensi meningkatkan kembali jumlah pengunjung jika dilakukan dengan baik. Terutama jika alur kunjungan diarahkan melewati area pedagang.
"Harapannya ya bisa lebih ramai lagi. Kalau pengunjung naik, pedagang juga ikut terbantu," sebutnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo