JOGJA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat tingkat okupansi hotel selama masa awal libur sekolah mengalami peningkatan jika dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, kenaikan jumlah tamu tersebut belum mampu sepenuhnya memperbaiki kondisi usaha perhotelan karena diiringi lonjakan biaya operasional.
Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, berdasarkan data anggota PHRI DIY, tingkat okupansi hotel pada periode 17 hingga 25 Juni 2026 telah mencapai rata-rata 70 persen.
"Angka itu cukup rata, baik hotel bintang maupun nonbintang anggota kami," katanya, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: Raudi Akmal Ditetapkan Tersangka Korupsi, Tak Ada Perwakilan Fraksi PAN di Komisi D DPRD Sleman
Capaian tersebut patut disyukuri karena menunjukkan adanya peningkatan sekitar 10 hingga 20 persen dibanding periode liburan sebelumnya. Meski demikian, kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan usaha hotel.
"Ini belum bisa memberikan napas segar bagi kita. Memang okupansi naik sekitar 10 sampai 20 persen dibanding liburan yang lalu, tetapi biaya operasional juga mengalami peningkatan," ujarnya.
Deddy menyebut, kenaikan biaya operasional terjadi hampir di seluruh komponen. Mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan kebersihan hotel.
Baca Juga: Temui Kader Pendamping Keluarga, Menteri Kemendukbangga Wihaji Edukasi Penyaluran MBG 3B di Sleman
"Kenaikannya luar biasa, 15 persen sampai 25 persen. Baik bahan baku pangan maupun bahan baku chemical atau kebersihan semuanya naik," ujarnya.
Selain itu, pelaku usaha hotel juga menghadapi tambahan beban akibat pemadaman listrik bergilir yang terjadi repetitif di sejumlah wilayah dalam beberapa hari belakangan.
Kondisi tersebut memaksa hotel mengoperasikan genset dalam waktu cukup lama sehingga meningkatkan konsumsi bahan bakar.
Baca Juga: Was-Was Desil DTSEN Kurang Tepat Sasaran, Dewan Dorong Perubahan Regulasi Penerima JPD
"Pemadaman itu tidak hanya satu atau setengah jam, tetapi bisa dua sampai tiga jam. Genset itu butuh solar, sementara harga solar juga naik," tandasnya.
PHRI DIY juga menerima laporan dari sejumlah hotel terkait kerusakan peralatan elektronik yang diduga dipicu ketidakstabilan tegangan listrik saat terjadi pemadaman maupun ketika aliran listrik kembali normal.
Kerusakannya seperti water heater, TV, AC, komputer, dan lain-lain. “Ini juga menambah beban biaya operasional karena harus diservis bahkan ada yang diganti," bebernya.
Akibat kondisi tersebut, peningkatan okupansi belum berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan usaha.
"Okupansi memang naik, tetapi revenue kita menurun karena digunakan untuk menutup biaya operasional yang terus meningkat," ujarnya.
Meski demikian, Deddy tetap optimistis tingkat hunian hotel masih berpotensi bertambah selama masa libur sekolah berlangsung. Berdasarkan data reservasi hingga pertengahan Juli mendatang, pemesanan kamar sudah berada pada kisaran 40 hingga 50 persen.
"Reservasi tanggal 26 Juni sampai 14 Juli sudah rata-rata 40 sampai 50 persen. Kemungkinan masih akan naik lagi. Target kita bisa mencapai 85 persen," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita