Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BBM Nonsubsidi Naik, Pelaku Pariwisata di Magelang Khawatir Wisata Tak Lagi Jadi Prioritas

Naila Nihayah • Senin, 15 Juni 2026 | 09:10 WIB
Pemandangan lautan awan menjadi daya tarik bagi pengunjung di Gunung Telomoyo.
Pemandangan lautan awan menjadi daya tarik bagi pengunjung di Gunung Telomoyo.



MUNGKID - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memicu kekhawatiran bagi pelaku sektor pariwisata di Kabupaten Magelang. Kebijakan tersebut berpotensi menekan jumlah kunjungan wisatawan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Ketua Forum Daya Tarik Wisata (DTW) Kabupaten Magelang Edwar Alfian menyebut, dampak kenaikan BBM nonsubsidi hampir pasti dirasakan oleh industri pariwisata. Terlebih, tidak seluruh aktivitas operasional di sektor ini menggunakan BBM bersubsidi. "Kami khawatir akan ada penurunan kunjungan wisatawan," ujarnya saat dihubungi, Minggu (14/6).

Menurutnya, meskipun BBM bersubsidi seperti pertalite dan solar tidak mengalami kenaikan, sebagian besar aktivitas pendukung pariwisata tetap bergantung pada jenis BBM lain. Kondisi ini berimbas pada meningkatnya biaya operasional, mulai dari transportasi wisata hingga distribusi logistik.

Baca Juga: Tarif Tak Naik, Biaya Membengkak: Dilema Pengusaha Jeep Wisata Pantai Selatan Gunungkidul Harus Tanggung Beban BBM

Di sisi lain, lanjut Edwar, kenaikan harga BBM juga berpotensi memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Sektor wisata yang selama ini menjadi kebutuhan tersier, diprediksi akan mulai ditinggalkan atau dikurangi oleh sebagian masyarakat karena mereka lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
"Kemungkinan besar pariwisata bukan lagi menjadi prioritas utama," kata Edwar.

Edwar menambahkan, untuk menghadapi potensi penurunan kunjungan, pelaku wisata di Magelang diminta lebih cermat dalam menyusun strategi bisnis. Satu langkah yang ditekankan adalah menjaga stabilitas harga paket wisata agar tetap terjangkau.

Dia mengingatkan agar pelaku usaha tetap fokus pada bidang masing-masing dan tidak memperpanjang rantai distribusi yang justru akan meningkatkan biaya bagi wisatawan.

Baca Juga: Gubug Merapi Jadi Magnet Turis Asing, Suguhkan Panorama Lahar dari Lereng Gunung    

Menurutnya, praktik perantara yang tidak terkendali dapat menyebabkan kenaikan harga paket wisata secara tidak wajar. "Langkah konkretnya adalah menggenjot promosi, bahwa wisata di Magelang masih ramah di kantong," paparnya.

Dia menambahkan, dibandingkan sejumlah daerah lain, destinasi wisata di Kabupaten Magelang relatif masih terjangkau. Beberapa objek wisata bahkan menawarkan harga tiket yang cukup murah. Seperti di kawasan Ketep yang mematok tarif Rp 10 ribu pada hari biasa dan Rp 12 ribu saat akhir pekan.

Dia berharap, pemerintah tidak hanya mengandalkan program berbasis anggaran dalam merespons dampak kenaikan BBM. Mengingat kondisi keuangan negara dan daerah yang tengah mengalami efisiensi. "Kami memahami kondisi anggaran saat ini. Yang kami harapkan adalah langkah strategis dan kolaboratif untuk meminimalisir dampak penurunan kunjungan," tuturnya. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#tersier #Magelang #Pelaku Pariwisata #DTW #harga bbm nonsubsidi